Suarez – Schadenfreude media massa

Beberapa bulan terakhir, rasanya susah jadi pendukung LFC. Tiap kali nama Suarez disebut, ada saja orang menimpali “rasis!”. Ketika nama klub disebut, celetuk dan pendukung rival menuding LFC sebagai klub pendukung rasisme. Kenny Dalglish pun tak luput dari cercaan, bahkan sampai ancaman pembunuhan. LFC ditempatkan pada posisi yang sulit.

Perlu ditegaskan di sini, bahwa sebenarnya, sikap pendukung dan LFC cukup jelas. Kami tidak mendukung rasisme, apapun itu bentuknya. Tanpa kompromi.

Ini mungkin yang susah dicerna media dan rival LFC, mengapa – suporter, para pemain dan Kenny Dalglish – begitu militan mendukung Suarez. Padahal sederhana saja, kami percaya Suarez tidak bersalah. Kami merasa tidak ada keadilan, dalam keputusan sidang panel FA, yang menghukum satu dari pemain kami, Luis Suarez, hanya dengan dasar “kemungkinan”. Tanpa bukti kuat, baik video, rekaman suara maupun kesaksian yang mendukung (baik dari pemain di lapangan, atau offisial) tuduhan rasisme dari Patrice Evra.

Menghukum seseorang hanya berdasarkan tuduhan tanpa bukti kuat, membuat FA terlihat mirip seperti para pelaku pembunuhan orang-orang yang diduga sebagai dukun santet di Indonesia. Tuduh korban dengan tanpa alasan jelas, lantas babat sampai mati.

Tuduhan rasisme adalah serius. Selayaknya juga, kasus sebesar ini juga didukung bukti yang kuat. Banyak dari para suporter LFC, ataupun pihak netral yang sudah meneliti dan mencerna, bahwa laporan sepanjang 115 halaman yang dirilis di awal tahun, tidak terdapat bukti kuat dan minim kesaksian pendukung. Juga penuh dengan lubang, inkonsistensi, dan standar ganda[1][4][5]. Jika ini adalah kasus yang dibawa sampai pengadilan kriminal – seperti yang dijalani John Terry-  Suarez akan bebas, karena nihilnya bukti dan saksi. Layak dipertanyakan, jika pelanggaran Suarez sangat berat, mengapa tidak sekalian dibawa ke ranah hukum yang lebih tinggi?

Tapi suka atau tidak, kita hidup dalam dunia penuh konflik. Di mana uang dan kuasa sering kali muncul sebagai faktor penentu. Orang lebih tertarik untuk membaca informasi, ketika rasa penasaran mereka dipicu oleh headline yang menebalkan konflik. Entah itu skandal, perang atau bencana. Jargonnya, bad news is good news.

Di sisi lain, ketika pendukung mengharapkan ulasan yang seimbang, tanpa bias dan berbobot dari media. Yang kami dapatkan adalah, witch-hunt, pemberitaan penuh dengan bias, generalisasi, agenda dan pembunuhan karakter.

Di era digital ini, semuanya dituntut serba cepat, nyaris instan. Informasi ada di ujung jari, siap untuk disentuh dan dibaca. Sayangnya, acap diserap dengan sedemikian mudahnya, dan sering kali tanpa filter.

Yang lebih menyedihkan lagi, media -sebagai sarana terbesar penyedia informasi- sepertinya lebih mendahulukan reportase tabloid, bahkan level terendah dari jurnalisme, yellow journalism.  Di mana Headline adalah dagangan utama. Yang penting provokatif, sering kali sensasional. Tujuannya? Menjual lebih banyak oplah, menarik traffic ke website, menambah revenue dari jumlah klik yang masuk. Isi berita difabrikasi, dikarang, diterjemahkan bebas, bukan dilaporkan. Urusan validitas narasumber, netralnya reportase atau bahkan riset bahan berita, jadi urusan belakangan.

Kita sepakat, isu rasisme ini perlu dihilangkan. Tapi ketika semua pihak harusnya bekerja sama, antara klub, pendukung dan media. Skandal ini malah jadi ajang memancing di air yang keruh. Umpannya? Tentu saja headline sensasional yang sudah disebut di atas.

Tweet Stan Collymore baru-baru ini, semakin menegaskan kenyataan bahwa elemen dasar jurnalisme dan kompas moral sudah jadi barang langka di media, dan tak hanya di Inggris. Mengapa harus repot menelaah isi laporan? Terima saja keputusan panel secara mentah. Padahal, seorang jurnalis wajib mempertanyakan isi sumber berita

Ignorance

.

Di Indonesia pun juga seperti itu, Ian Situmorang, wartawan senior Bola, di catatan ringannya “lupa” mencantumkan fakta bahwa Evra-lah yang sebenarnya memulai provokasi verbal dengan mengumpat “concha de tu hermana” – sebuah slang sangat vulgar, yang kemudian “diterjemahkan lebih halus”oleh FA, sebagai “fucking hell!”.

Media seperti mengabaikan pendapat resmi Evra dan FA di bagian awal laporan, bahwa Suarez bukanlah seorang yang rasis. Yang ada adalah generalisasi, jika Suarez dihukum, dia pasti bersalah karena rasisme. Lalu juga mempertanyakan sikap LFC dan para pendukungnya, yang membela Suarez. Bahkan ketika DMCS (Department of Media Culture and Sports) mempertanyakan kelayakan sidang tersebut, apakah ada media yang memberitakannya?

Apa bisa ditemukan ulasan media yang komprehensif tentang tidak lazimnya susunan kalimat dan struktur bahasa yang dituduhkan, diucapkan oleh Suarez?

Memang, Suarez dan LFC tidak mengajukan banding dan menerima hukuman.  Tapi media tidak berhenti di sini. Saat kita harapkan kasus ini ditutup, media menemukan amunisi untuk ditembakkan.

Kasus Adeyemi dan suporter yang meniru gaya monyet dijadikan sorotan. Padahal jika mau melihat statistik penahanan suporter klub, yang dirilis oleh Home Office, LFC termasuk klub yang pelanggarannya paling sedikit[2].

Bom terakhir, adalah saat Suarez menolak untuk berjabat tangan dengan Evra saat pertandingan di OT. Banyak intrepetasi dan asumsi diajukan. Ada yang menganggap Suarez mengkhianati komitmennya pada Dalglish dan klub, ketika dia tidak melakukan seperti yang sudah dijanjikan sebelumnya. Ada juga yang menilai bahwa Evra sengaja memicu konflik lanjutan dengan menurunkan posisi tangannya sebelum mencoba jabat tangan dengan Suarez. Semuanya terbuka untuk diintrepetasikan secara bebas.

Tapi, adakah media yang mempertanyakan mengapa terjadi pengubahan protokol resmi FA tentang jabat tangan sebelum pertandingan? Mengapa LFC sebagai tim tamu, justru jadi pihak yang memulai proses jabat tangan?

Protokol resmi dari FA tentang jabat tangan[3]:

The Home team, led by their captain, then walks to shake hands with the match officials, and then the away team’s players. Once each Home team player has finished shaking hands with the last away team player they disperse to their favoured end to kick-in.”

Kita semua sudah tahu, bahwa media lebih membesarkan komentar menggelikan dari Alex Ferguson, bahwa Suarez dianggap memalukan dan tidak pantas bermain untuk LFC.

The Wisdom of Sir Alex. Apparently, Kung Fu kick is totally allowed.

Lepas dari kata Suarez, “bahwa semua tidak seperti yang terlihat”, Paling tidak, LFC sudah bertindak lebih bjiak dengan langsung mengeluarkan permintaan maaf.

Kewajiban dan elemen dasar jurnalisme, yang ditegaskan oleh Bill Kovach dan Tom Rosenstiel seakan jadi garis besar yang pudar. Bahwa jurnalisme, sebagai alat mulia untuk menyelidiki – masalah, ide atau peristiwa- dengan keseimbangan, opini tanpa bias dan bertanggung jawab kepada publik.

Dan ketika integritas jurnalisme mulai luntur. Di mana posisi kita sebagai pendukung LFC dan juga konsumen media? Kita bisa jadi penerima informasi yang cerdas. Tahu di mana sumber yang tepat, bisa menilai bobot berita, dan sanggup mengkritisi ketika pemberitaan berjalan tidak seimbang atau cacat validasi. (Sudah banyak blogger dan jurnalis tulen yang menuangkan opini imbang mereka ke dalam berbagai macam website atau forum).

Atau kita jadi suporter dan konsumen media yang pasrah? Menerima berita yang lebih mirip skrip sinetron, menghujat, menertawakan dan voila! Schadenfreude! Kita jadi sama dengan para jurnalis bias media, berdansa di tragedi orang lain.

YNWA!

-          [1] http://tomkinstimes.com/2012/01/the-suarez-decision-lfc-grounds-for-appeal/

-          [2] http://www.homeoffice.gov.uk/publications/crime/football-arrests-banning-orders/fbo-2010-11

-          [3]http://www.cumberlandfa.com/NR/rdonlyres/F1E8DE93-4517-41C7-9560-9EAF1D635542/0/TheFARespectHandshake.pdf

-          [4]http://newsframes.wordpress.com/2012/01/06/media-on-racism-churnalism/

-          [5]http://newsframes.wordpress.com/2012/01/23/media-on-racism-framing/

-          http://www.redandwhitekop.com/forum/index.php?topic=285174.0

-          http://www.redandwhitekop.com/forum/index.php?topic=285259.0

-          http://www.thisisanfield.com/2012/02/editorial-our-final-word-on-the-suarez-saga/

-          http://www.theanfieldwrap.com/2012/02/suarezhandshak/

-          http://www.theanfieldwrap.com/2012/02/you-have-the-right-to-be-offended-%e2%80%93-when-it-suits/

2 thoughts on “Suarez – Schadenfreude media massa

  1. Gue terpukau sama deretan sumber di bagian bawah.
    Kalau aja murid2 gue mau nulis selembar essay dengan jumlah sumber bacaan (yang ditulis dengan APA style) dan antusiasme yang sama, mata gue pasti bengkak setiap hari karena menangis bahagia..

    • Karena seringnya, gue menulis material yang berkaitan dengan sesuatu yang gue “cintai”. Jadi ga enak aja kalo asal nulis.

      Lama-lama jadi kebiasaan gue kok Far (daripada ngarang bebas, dan belakangan ketauan kalo ternyata bego). Dan kebetulan aja gue emang ada waktu buat riset dan nyari sumber yang, menurut gue, kompeten :D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s