Winning Eleven: Best movies 2012

It’s almost a new year, and my plan to write at least one entry per month is ruined. No particular reason, other than I’ve got nothing interesting to write. As simple as that.

But I thought a tradition of writing some of the best movies I’ve watch in a year should continue.

I must admit, that I wasn’t able to watch as much movies as I wanted to. Even as I wrote this entry, some movies that could be a contender in this list – I haven’t yet to watch – like the Hobbit for example. Or Cloud Atlas, Django Unchained , etc.

But alas, here’s the list – and I hope you some of it fits in yours as well.
Continue reading

Review: The Dark Knight Rises

I think, I’ve read enough Batman comics – to know a thing or two about the character. Let me be clear. If you’re a fan of Batman in the movie, then you probably disappointed in the lack of action scenes. But if you’re a fan of the comic, then like me, you’d think this movie rocks.

People complaining about the lack of action, but this Bruce Wayne have not picked up his gadgets in 8 years. And I think that’s what the movie’s focus. This is not about the playboy millionaire façade. This is the real Bruce Wayne. We already have TDK as an installment who focused on the villain (The Joker). And a hero that immediately can kick asses? That wouldn’t be realistic no?

Continue reading

Review: The Raid: Redemption

Usually, there’s a formula, in typical Hollywood action movies. The heroes will walk (without afraid of being shot!) through a gate, in slow motion stares directly at you.They will be wearing heavy armor outfit, with their shining muscles, and carrying an array of huge automatic guns and ammo – ready to start some chaos.

To get your adrenaline pumped, their arsenals are usually these: sculpted bodies, loud boom, fast and then super slow motion fest, huge explosion, flashy expensive CGI and don’t forget; throw in a damsel in distress, with a tight and revealing outfit.

Team Bad ass Cops.

The formula is getting boring, but thankfully – you’ll find none of that in The Raid.
Continue reading

Review: Toy Story 3

biasanya, ada sebuah antisipasi – bahwa bakal ada sesuatu yang mengecewakan – ketika kita akan menyaksikan film ketiga dari sebuah franchise. di mana biasanya kita akan tertohok oleh sebuah kebosanan, mentoknya plot dan minimnya pengembangan karakter di film-film sebelumnya (spider-man 3 anyone?). antisipasi itu muncul ketika saya berangkat untuk menyaksikan toy story 3.

tapi alhamdulillah, ternyata toy story 3 menghapus keraguan saya akan kemampuan pixar untuk membuat film ketiga dari seri toy story.

plotnya bergulir 10 tahun dari toy story 2. di mana andy, sang pemilik mainan harus meneruskan pendidikannya ke jenjang kuliah. dan dia dihadapkan pada pilihan antara menyimpan mainan kesayangannya, membuang atau menyumbangkan mereka, atau malah membawa mereka pindah.

serentetan kejadian yang tidak disangka, membawa mainan-mainan ini ke sebuah tempat penitipan anak – sunnyside. di mana awalnya mereka menyangka bahwa tempat ini adalah hal yang paling sesuai untuk mereka. kembali ke kodrat awal mereka untuk dimainkan oleh anak-anak.

tapi ternyata, di balik hal-hal yang awalnya menyenangkan. mereka harus melarikan diri secepat mungkin dari sunnyside.

jujur, saya nyaris kehabisan kata-kata untuk mengulas film ini. konsep cerita, pelaksanaan, pemilihan casting – semua elemen penting sebuah film ditempatkan dengan sempurna oleh pixar. tokoh baru macam barbie – ken turut menyegarkan film ini.

kita tidak akan menemui karakter yang tadinya akrab lalu menjadi asing di sebuah sekuel. hubungan antara penonton dan karakter di film bisa terjalin dengan mudah, pun dengan adegan pembukaan yang sama sekali tidak disangka.

intinya, pixar berhasil membuat inti cerita yang biasa terlihat corny di film-film lain, terlihat seperti wejangan penuh kedewasaan – dan film ini bisa dengan mudah membuat air mata mengalir, tapi hati tetap jadi hangat.

pixar mematahkan mitos buruk film ketiga di sebuah franchise. dan menurut saya, sangat layak untuk ditonton.

Review: Merantau

merantau

belasan tahun lebih kali ya? sejak ada film laga di layar perak indonesia?
dan rada malu gue baru nonton film ini kemarin, sementara gue sudah penasaran ketika film ini ada di firstshowing.net dengan label “must watch!”

digelindingkan dengan narasi sang ibu yang diperankan christine hakim, pacu dramatis berjalan agak lambat di awal film. christine hakim sudah tidak perlu diragukan lagi kualitas aktingnya. lalu ketika penonton mulai gelisah, langsung dihajar dengan rentetan aksi pukulan, bantingan dan tendangan yang koreografinya patut gue acungi jempol. bisa lah, menutupi plot yang menurut gue rada standar.

ini film aksi yang mumpuni. filosofi penting berhasil diselipkan di ending yang non-hollywood. gerakan silat yang realistis, kombinasi jurus yang lembut namun akhirnya tak ragu untuk jadi keras dan tajam ketika diperlukan.

intinya, gue rasa merantau bisa bikin om barry prima & willy dozan jadi bangga :D

Review: District 9

dari liat film ini, neill blonkamp ga sia-sia jadi muridnya peter jackson. lewat arahannya, kata pengasingan (alienation) dibawa ke level yang baru.

bercerita tentang sebuah kapal induk alien yang mengambang di johannesburg, selama lebih dari 20 tahun. sementara para alien yang dijuluki prawn, direlokasi di sebuah daerah yang diberin nama district 9. wikus van der merwe, adalah seorang pegawai MNU yang bertugas mendata dan membujuk para prawn ini ke lokasi yang baru. menurut gue, film ini jadi semacam sebuah satir pada politik apartheid.

alur mulai berbelok ketika pada suatu pemberangusan, wikus tidak sengaja menyemprot dirinya sendiri dengan suatu cairan aneh, dan secara bertahap, badan wikus berubah menjadi prawn. mulai dari kuku & gigi yang lepas, sampai pada tangan yang berubah persis seperti tangan prawn.

kerumitan mulai terjadi ketika kondisi tangan wikus dicoba untuk menggunakan senjata-senjata dari para prawn. dan ketika tangan wikus ternyata mampu, maka dia jadi buronan para birokrat mnu, termasuk mertuanya sendiri.

bekerja sama dengan prawn yang bernama christopher dan anaknya. wikus berusaha untuk kembali ke raga manusiawinya. drama di jelang akhir film juga menjanjikan. fisik wkikus memang berubah, tapi apakah nuraninya juga demikian?

dengan visual semi dokumenter & interview, awal film memang cenderung berjalan lambat, dan agak membosankan. tapi aksi di pertengahan hingga ujung film, amat sangat layak disaksikan. action packed with awesome gunnery, wicked robot battle (transformers, eat your heart out), blood & body exploding everywhere.. it was totally awesome.

in a nutshell, worth watching.