Pilkada DKI 2017, dan 3 Orang Kandidat Gubernur

Perlu ditegaskan di awal, bahwa saya sudah bukan warga Jakarta. Sejak Januari tahun lalu, secara resmi sudah menjadi warga Depok. Tapi saya jelas masih punya urusan dengan Jakarta. Lha wong nyari duitnya di sana kok. Hehehe.

Nah, soal pilkada DKI, ijinkan saya beri penilaian untuk ketiga kandidat – kebetulan, saya pernah bersentuhan langsung dengan kinerja dua dari tiga kandidat yang ada. Yaitu Pak Ahok, dan Mas Anies.

Keduanya orang baik, saya yakin.

Pak Ahok ngga perlu lagi diragukan hasil kerjanya. Reformasi birokrasi saya rasakan betul. Berkas urusan pindah dari Jakarta ke Depok, diurus tanpa biaya sepeserpun. Hanya dalam waktu seminggu, dari tingkat RT sampai Suku Dinas Kependudukan, berkas sudah selesai. Kebalikannya dengan Depok, di level RT saja saya sudah kena Rp. 20.000, dan kena lagi di level kelurahan sebesar Rp. 300.000. Pungli, dan saya ngga bisa berkelit – kalo ga mau bayar. Ga diurus berkas saya. (Daftar dari November, KTP baru jadi Januari. Lama!)

Banyak sekali perubahan positif dilakukan di Jakarta. Mulai dari reformasi birokrasi, transparansi rapat dan anggaran, sampai pengerjaan berbagai proyek sarana masyarakat. Ini ga bisa dipungkiri. Ahok sudah set standar yang tinggi buat gubernur Jakarta selanjutnya.

Minusnya Pak Ahok, kita sudah tau semua: Mulutnya.

Belakangan dia sudah terkesan berhati-hati (which is good), tapi sepertinya blunder lagi pada kasus terakhir di persidangan yang menghadirkan KH Ma’ruf Amin (walau sudah minta maaf dan klarifikasi – tapi tetap saja isunya langsung digoreng sama hatersnya). Lepas, apa adanya dan cenderung tanpa filter. Ini yang menurut saya sering jadi sandungan.

Dan juga seperti yang sudah ditulis kawan saya Mas Husnil di tanggapannya pada surat terbuka Tsamara Amany, kebijakannya menggusur warga di Bukit Duri dan lantas kalah di tingkat pengadilan itu ironi.

Sementara itu, saya bersentuhan dengan Mas Anies pada saat saya bergabung di Komite Buku Nasional. Di 2015, Indonesia jadi Guest of Honour (GoH) di Frankfurt Book Fair (FBF). Buat yang belum tau, FBF itu pameran buku terbesar di dunia. Dan kehadiran Indonesia di FBF, sukses besar.

Mas Anies banyak membantu KBN pada saat kita berbenturan dengan birokrasi yang kadang memang berbelit. Mulai dari pre-event, kehadiran Indonesia di London Book Fair dan Bologna Children’s Book Fair, sampai ke hajatan besar FBF, dia siap sedia bantu. Dan pada saat hajatan GoH selesai, dia ga ragu buat mutasi pejabat yang dinilai ga perform (saya tau, setidaknya ada 2 pejabat eselon 2 yang dimutasi). Jadi soal ketegasan, ga usah diragukan.

Mas Anies juga menyelamatkan anggaran negara lebih dari 20T di Kemendikbud. Ini perlu dikedepankan, karena penentangnya justru mengira dia salah hitung anggaran. Padahal nggak.

Endorsemen buat Mas Anies, (termasuk tanggapan surat-surat terbuka) bisa dibaca di website Mas Muhammad Husnil : www.husnil.id. Lengkap, dari program sampai pencapaian saat dia jadi Kemendikbud dan disertakan data yang bisa diuji.

Walau saya ngga sreg dengan kereta politik (partai pengusung) yang mengantar Mas Anies, endorsemen saya ke beliau ngga akan berkurang. Kritik buat Mas Anies, mungkin ada di ujaran salah satu staf di Kemendikbud (nama ga akan disebut) yang bilang kalau walau programnya bagus-bagus, Kadang, Mas Anies terkesan lebih peduli dengan citra.

Btw, buat kawan Muslim yang masih ragu soal bisa memilih non-muslim jadi gubernur atau tidak, kawan saya Kiai Taufik Damas, sudah buat booklet kajian soal ini. Singkat, cermat dan mencerahkan. Bisa dibaca di tautan berikut: http://bit.ly/7dalil atau: https://drive.google.com/…/0Bz-fRx5vIy16R0NmZU5fM0xTOU0/view

Nah, kalau calon nomor 1.
Terus terang saya ragu. Pun ketika sebetulnya dia jadi kuda hitam di pilkada DKI. Elektabilitasnya bagus, dan dari beberapa informasi yang saya dapat, gerilya timses dan relawannya di tingkat akar rumput sangat gencar.

Agus sebetulnya cemerlang. Testimoni kawan saya yang satu angkatan di Taruna Nusantara ataupun di Akmil mengatakan itu. Bakatnya ada dan karir militernya bagus. Di debat pilkada banyak yang bilang dia mengandalkan hapalan. Tapi itu juga menunjukkan kemauannya untuk belajar, dan dia melakukan itu dalam waktu relatif singkat.

Tapi sayang Pepo-nya baperan dan banyak agenda. Walau cemerlang, AHY ga punya pengalaman selain jadi komandan di Angkatan Darat, levelnya juga baru Mayor. Jelas beda dengan jadi pimpinan di level pemerintahan daerah.

Juga karena kita udah tau politik dinasti di Indonesia ujungnya kaya gimana. Contoh skala nasional: Dinasti Cendana. Atau skala propinsi, dinasti Atut di Banten. Korupsi semua.

Akhir kata. Semoga perbedaan pilihan tak mempertajam kebencian. Dari tiga kandidat saya rasa kemauannya sama kok, Jakarta dan Indonesia yang lebih baik. Tak suka dengan kandidat atau programnya kritisi aja (nyinyir itu ga dapet pahala, hehe). Jangan percaya dan sebarkan hoax, karena itu selain menunjukkan kebodohan, juga kemalasan akut.

Demikian. Semoga tulisan singkatnya bermanfaat. Selamat pesta demokrasi!

Review: Paddington (2014)

Mrs. Brown: Perhaps you’d like an English name?
Paddington: An English name?
Mrs. Brown: Paddington!
Paddington: Paddington? I like it!

Jadi, saya termasuk beruntung karena dapat tugas jadi perwakilan MovieXplorers buat media screening Paddington di Kemang Village XXI (yang kebetulan cuma 5 menit dari rumah). Masuk ke dalam dengan harapan yang biasa-biasa saja, tapi keluar theater dengan senyum lebar. Hehehe.
Continue reading Review: Paddington (2014)

Stop Merokok (lagi)

Biar gue jelaskan di awal, bahwa gue bukan quitter yang lantas jadi snob. Each to his own. Dan blog ini gue tulis khusus buat orang yang mau/sedang berhenti merokok. Gue tau kok “enaknya” merokok. Gue merokok lebih dari 15 tahun. Jadi gue ga akan nguliahin orang, betapa berbahayanya rokok, atau betapa perokok merampas hak-hak orang yang ga merokok. You smokers know the danger, but you choose to ignore it 😉 Continue reading Stop Merokok (lagi)

Winning Eleven: Best movies 2012

It’s almost a new year, and my plan to write at least one entry per month is ruined. No particular reason, other than I’ve got nothing interesting to write. As simple as that.

But I thought a tradition of writing some of the best movies I’ve watch in a year should continue.

I must admit, that I wasn’t able to watch as much movies as I wanted to. Even as I wrote this entry, some movies that could be a contender in this list – I haven’t yet to watch – like the Hobbit for example. Or Cloud Atlas, Django Unchained , etc.

But alas, here’s the list – and I hope you some of it fits in yours as well.
Continue reading Winning Eleven: Best movies 2012

Juggling between life, work and nap time…