Review: The Sandman : Dream Country

Writers are liars…

Things need not have happened to be true. Tales and dreams are the shadow-truths that will endure when mere facts are dust and ashes, and forgot.

Sebenarnya, perkenalan gw dengan karya2 Neil Gaiman bisa dibilang agak telat. Gw baru kenal Gaiman sekitar awal tahun lalu, itupun lewat kumpulan quote; yang ada dalam salah satu e-mail salah satu temen gw, dan kebetulan nyasar ke inbox gw….

Nah.. Awal kertertarikan gw pada karya2 Gaiman; adalah jalinan cerita yang bagus dan terjalin rapi, dialog2 yang witty, cerita2-nya yang penuh fantasi gelap dan ga lupa sisipan humor2 yang datar tapi nusuk. The Sandman sendiri, bertutur tentang para Endless – Destiny, Death, Dream, Destruct, Desire, Despair, Delirium – peran unik mereka dan juga hubungan mereka antara satu dengan yang lain. Kalo di TV kita kenal The Kumar’s sebagai keluarga yang dysfunctional, maka The Endless adalah keluarga dysfunctional-nya novel grafis.

Anyway, buku ini adalah buku ketiga dari sebelas buku dalam The Sandman Library. Dream Country sendiri berisi empat cerita; Calliope, A Dream of A
Thousand Cat, A Midsummer Night’s Dream dan Facade. Kalo lo nanya kenapa gw milih buku ini… jawabannya simple aja, karena gw dapetnya baru buku ini…. hehehe

On to the review shall we?

Dalam Calliope, kita akan dikenalkan pada Calliope, calon ibu dari anak sang penguasa mimpi, Dream. Richard Madoc, seorang penulis buku butuh inspirasi untuk buku2 yang akan dia tulis, dan inspirasinya datang dari keberadaan Calliope yang disekapnya di dalam loteng di rumahnya. Calliope akan tetap terperangkap di sana, sampai akhirnya Dream memutuskan untuk turun tangan…

Di A Dream of A Thousand Cat, seekor kucing betina menuntut kejelasan atas kematian anak2nya, dia mendapatkannya ketika dia bertemu dengan Dream; Dream menunjukkan pada sang kucing kekuatan mimpi… dan kebenaran di balik mimpi…

Shakespeare? Siapa yang pernah denger Shakespeare? Nah, dalam A Midsummer Night’s Dream, kita akan dikenalkan pada awal pertemuan William Shakespeare dan Dream; the lord shaper himself.

Sementara dalam Facade, Rainie alias Element Girl seorang ex-superhero ( yup!… you hear that one right ) merasa putus asa dengan keadaan dirinya. In a nutshell… she wants to die… but she couldn’t. EG merasa ada sekerjap harapan ketika Death masuk ke dalam rumahnya “And you’ve come for me? Blessed, merciful death. You’ve come to make it all stop?”

Tapi Death cuma menjawab dengan datar “No. I haven’t come for you, Rainie. There was a woman upstairs, changing the light bulb in her kid’s room. The stepladder slipped…”

Nah, salah satu line dari Death di atas, adalah salah satu alasan kenapa gw suka sama karya2-nya Gaiman.

Atau pada saat Death sekali lagi menegaskan siapa dirinya dan perannya pada Rainie

When the first living thing existed, I was there, waiting. When the last living thing dies, my job is finished. I’ll put the chairs on tables, turn out the lights and lock the universe behind me when I leave.

Gaiman mampu menghadirkan rentetan kalimat2 yang bakal bikin kita merenung, kalimat2 yang mungkin hanya terlintas pada saat kita hampir terlelap dalam tidur dan kalimat2 itu akan hilang ketika kita bangun dalam kesadaran penuh…