met.tahun.baru

Resolusi?
Hahah…

Gw ga
usah ngomong2 soal resolusi deh…  huhuw.
Dari tahun ke tahun gw selalu bikin, dan biasanya malah jarang ada yang
terlaksana…

Untuk
tahun depan, pastinya ada perubahan. Moga2 aja bisa berbentuk sebuah kemajuan
buat gw… walau pastinya nanti juga ada setback
tapi dari apa – apa yang udah gw alami dan lakukan di tahun ini…
kesimpulannya satu… gw kebanyakan dan kelamaan mikir! Terlalu banyak hal yang
gw tunda – tunda dan akhirnya malah bubar jalan… hehe 

Soooo…
planning tetep ada…

Cuma
nantinya, yang bakal jadi fokus gw, apa – apa yang nanti bakal muncul dan ada
buat gw jalanin, ya gw jalanin aja. Gampang kan? 

Again…

Selamat
tahun baru guys… : )

 

PS:

Uhm.
Moga- moga aja,  di tahun depan bakal ada yg ngucapin ke gw… “selamat menempuh hidup baru ya yan….” huehehehehe…

i.hate.love

Have you ever been in love? Horrible isn’t
it? It makes you so vulnerable. It opens your chest and it opens up your heart
and it means that someone can get inside you and mess you up.

You build up all these defenses, you build
up a whole suit of armor, so that nothing can hurt you, then one stupid person,
no different from any other stupid person, wanders into your stupid life…You
give them a piece of you.  

They didn’t ask for it. They did something
dumb one day, like kiss you or smile at you, and then your life isn’t your own
anymore.

Love takes hostages.  

It gets inside you. It eats you out and
leaves you crying in the darkness, so simple a phrase like ‘maybe we should be
just friends’ turns into a glass splinter working its way into your heart. It
hurts.

Not just in the imagination. Not just in
the mind. It’s a soul-hurt, a real gets-inside-you-and-rips-you-apart pain.  

I hate love.

The Sandman, Neil Gaiman

elegi.buat.Umi

Saya tahu persis, bahwa
kemampuan saya dalam mengolah kata – kata, masih sangat terbatas.

Masih terlalu banyak grammatical error, miss quote…  it’s a long list of
errors…
 

Tapi semoga saja, entry ini bisa mewakili apa yang ingin saya ungkapkan…

Saya sadar akan  beberapa hal yang
hilang ketika saya memutuskan untuk lebih memilih kuliah di Jogja… atau ketika saya sekarang merantau di sini

Simple things actually… Ketukan
pelan di pintu kamar tiap menjelang subuh, aroma sup ayam yang segar, nada
bicara yang lembut tapi juga sekaligus tegas dan yang terbaik… pelukan hangat yang selalu ada kapanpun saya butuhkan. 

Buat orang-orang
terdekat saya, pasti tahu persis salah satu kebiasaan saya… Ketika saya sedang
sendirian, atau bimbang, ragu-ragu, butuh dukungan… Saya hampir selalu
menyusupkan tangan kanan saya ke dalam baju, meraba rusuk kanan saya, mencoba merasakan
sesuatu di sana… di situ, ada sebekas luka. 

Luka yang akan selalu
mengingatkan saya… pada Ibunda saya Kuntarti, Umi, demikianlah panggilan sayang
saya kepada beliau.

Luka itu saya dapatkan
waktu saya masih sangat kecil, karena kecerobohan saya yang berusaha meraih
secangkir susu beras, yang ternyata masih mendidih… Jingkat tertatih saya
ternyata kurang mantap berpijak. Susu itu tumpah di badan saya… 

Umi, masih muda dan belum
begitu berpengalaman dengan seabrek kerepotan urusan buah hati, panik. Dengan tergesa,
mengangkat saya sambil berurai air mata, beliau berlari membawa saya menuju
puskesmas… belakangan, saya tahu bahwa Umi menyesali “kecerobohannya” dengan
menaruh susu tersebut terlalu dekat dengan ujung meja, sehingga saya bisa
meraihnya…

Belakangan pula, saya
menyadari, bahwa jarak antara rumah kami dan puskesmas, tidak bisa dibilang
dekat. Dan waktu itu, Umi, membawa saya sambil terus berlari… 

Ah, kekuatan tersembunyi
seorang Bunda… Jaman bisa merekam kehebatan para Bunda, tapi sering kali,
kita terlupa akan keluasan arti di dalamnya.

Dan dibalik kekuatan
itu, saya juga melihat kerapuhan beliau. Kerapuhan yang sangat samar… Dari kejadian
tersebut, di rusuk kiri saya, ada bekas luka… telapak tangan kanan Umi,
terpatri di sana…  

Sampai sekarang saya
bisa merasakan kalau ada sesal yang samar ketika Umi melihat bekas luka itu. Adapun
galau hati beliau, ketika merasakan gundah saya, gundah Abah saya, gundah keluarga
kami. Galau hati yang saya harap saya bisa hilangkan…

Saya tidak pernah
menyesali luka itu, atau bahkan menganggapnya sebagai cacat di badan saya… Bagi
saya… luka itu… adalah tanda cinta. Cinta Umi kepada saya, cinta yang saya
tahu pasti, tidak akan lekang oleh waktu. Lebih dari yang saya rasakan dalam
hati saya… Saya beruntung bisa punya tanda cinta yang melekat di badan
saya… 

Ah. Kata – kata dalam
bahasa apapun sering kali menjadi terlalu terbatas untuk mengungkap rasa…

Selamat Hari Ibu, Umi…
Juga buat Bunda – bunda atau calon bunda yang tahu persis bahwa membesarkan
anak, adalah pekerjaan yang paling berat di dunia… Dan sejarah mencatat,
pekerjaan tersebut, selalu butuh Bunda yang luar biasa!

 

PS:

Oh… Saya tahu kalau dia akan jadi Bunda yang hebat buat anak-anak saya nantinya… : )

a game.of.you

I’ll provide some of the answer…

Just a game for you my dear friends…

You ask 3 question. and give 1 final answer.


fancy for some creativity?

I.

I am
afraid.

The
thrill is shivering down my spine.

Tonight.
I’ll kill…

II.

It’s
just a game…

Love

You’ll
lose, only if you refuse to play

III.

That
is a clear fact for you to endure.

Like
it or not.

It’s
there.

IV.

 

Yes
dear?

No.
It’s on the 3rd door, down to your left

You’re
most welcome

half.empty.soul

hm.

pictures. wordscraft.
daily doze of daydreaming.

tv commercial. old movies. songs from the radio

in a sudden. spotlight at the center stage

something of a failure.

felt a pinch somewhere?

you’re alive then. pretty much so. i think.

 

 

lack.of.knowledge

lack
of knowledge have a source…

(collective
soul : 10 years later)

siap siap. data udah dapet. tinggal eksekusinya yg gw tunda – tunda.

tulis. kirim. tunggu kabar.

ah.
kok rasanya masih ada yang kurang.

hm. kayanya gw harus mulai banyak-banyak baca lagi nih….

boo.fuck.a book.hoo…


boo.fuck.a book.hoo…

PS:

this
entry’s title is quoted from her.