elegi.buat.Umi

Saya tahu persis, bahwa
kemampuan saya dalam mengolah kata – kata, masih sangat terbatas.

Masih terlalu banyak grammatical error, miss quote…  it’s a long list of
errors…
 

Tapi semoga saja, entry ini bisa mewakili apa yang ingin saya ungkapkan…

Saya sadar akan  beberapa hal yang
hilang ketika saya memutuskan untuk lebih memilih kuliah di Jogja… atau ketika saya sekarang merantau di sini

Simple things actually… Ketukan
pelan di pintu kamar tiap menjelang subuh, aroma sup ayam yang segar, nada
bicara yang lembut tapi juga sekaligus tegas dan yang terbaik… pelukan hangat yang selalu ada kapanpun saya butuhkan. 

Buat orang-orang
terdekat saya, pasti tahu persis salah satu kebiasaan saya… Ketika saya sedang
sendirian, atau bimbang, ragu-ragu, butuh dukungan… Saya hampir selalu
menyusupkan tangan kanan saya ke dalam baju, meraba rusuk kanan saya, mencoba merasakan
sesuatu di sana… di situ, ada sebekas luka. 

Luka yang akan selalu
mengingatkan saya… pada Ibunda saya Kuntarti, Umi, demikianlah panggilan sayang
saya kepada beliau.

Luka itu saya dapatkan
waktu saya masih sangat kecil, karena kecerobohan saya yang berusaha meraih
secangkir susu beras, yang ternyata masih mendidih… Jingkat tertatih saya
ternyata kurang mantap berpijak. Susu itu tumpah di badan saya… 

Umi, masih muda dan belum
begitu berpengalaman dengan seabrek kerepotan urusan buah hati, panik. Dengan tergesa,
mengangkat saya sambil berurai air mata, beliau berlari membawa saya menuju
puskesmas… belakangan, saya tahu bahwa Umi menyesali “kecerobohannya” dengan
menaruh susu tersebut terlalu dekat dengan ujung meja, sehingga saya bisa
meraihnya…

Belakangan pula, saya
menyadari, bahwa jarak antara rumah kami dan puskesmas, tidak bisa dibilang
dekat. Dan waktu itu, Umi, membawa saya sambil terus berlari… 

Ah, kekuatan tersembunyi
seorang Bunda… Jaman bisa merekam kehebatan para Bunda, tapi sering kali,
kita terlupa akan keluasan arti di dalamnya.

Dan dibalik kekuatan
itu, saya juga melihat kerapuhan beliau. Kerapuhan yang sangat samar… Dari kejadian
tersebut, di rusuk kiri saya, ada bekas luka… telapak tangan kanan Umi,
terpatri di sana…  

Sampai sekarang saya
bisa merasakan kalau ada sesal yang samar ketika Umi melihat bekas luka itu. Adapun
galau hati beliau, ketika merasakan gundah saya, gundah Abah saya, gundah keluarga
kami. Galau hati yang saya harap saya bisa hilangkan…

Saya tidak pernah
menyesali luka itu, atau bahkan menganggapnya sebagai cacat di badan saya… Bagi
saya… luka itu… adalah tanda cinta. Cinta Umi kepada saya, cinta yang saya
tahu pasti, tidak akan lekang oleh waktu. Lebih dari yang saya rasakan dalam
hati saya… Saya beruntung bisa punya tanda cinta yang melekat di badan
saya… 

Ah. Kata – kata dalam
bahasa apapun sering kali menjadi terlalu terbatas untuk mengungkap rasa…

Selamat Hari Ibu, Umi…
Juga buat Bunda – bunda atau calon bunda yang tahu persis bahwa membesarkan
anak, adalah pekerjaan yang paling berat di dunia… Dan sejarah mencatat,
pekerjaan tersebut, selalu butuh Bunda yang luar biasa!

 

PS:

Oh… Saya tahu kalau dia akan jadi Bunda yang hebat buat anak-anak saya nantinya… : )

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s