eragon

Rating:
Category: Movies
Genre: Science Fiction & Fantasy

sebenernya saya punya pendapat kalo eragon punya potensi buat jadi sebuah epik baru dan nantang triloginya lord of the ring. baca bukunya dan kamu mungkin sependapat dengan saya.

awalnya saya bersorak riang gembira karena akhirnya tiket nonton eragon udah ada di tangan, tapi setelah tontonan kelar, amat disayangkan saya harus keluar dengan muka ditekuk.

apa-apan ini? batin saya.

saya dikecewakan oleh jalan cerita yang dipercepat dan dimodifikasi, satu ras yang ilang, beberapa tokoh pembantu yang juga lenyap.
buset, eragon itu harusnya belajar jadi jagoan mulai dari nol, dan belajar dari pengalaman. bukannya kalo ada mara bahaya dan dikepung musuh, tau-tau ada aja yang nolong.. jadi jagonya dari mana coba? dan di mana si orik? si kurcaci pemberani? dan saya pikir arya itu harusnya elf?

sayang sekali. potensi aktor-aktor seperti jeremy irons & john malkovich seperti sia-sia di film ini..

kesimpulannya, kalaupun masih ada alasan buat nonton film ini, itu adalah CG dari saphira, naga eragon. harus saya akui, CG-nya keren sekali.

sampai di rumah setelah, saya cuma berdoa, moga-moga saya tadi salah tonton.
moga-moga yang saya tonton tadi bukan film eragon, tapi trailer buat film eldest.

Review: Maskot

*catatan dari jiffest juga

saya tau.. pertanyaannya mungkin adalah. “emangnya kemana aja elo yan? sampe ga tau ada film bagus macam gini…”

kalo boleh. saya mau nyalahin mereka yang udah bikin saya trauma dengan bikin film-film kancrut dengan judul-judul corny tapi masih punya dana lebih buat bikin promosi gede2an. dengan banner segede kingkong bunting; yang mana promosinya secara ga sengaja saya liat tiap hari dan akhirnya secara subliminal saya tertarik buat nonton. ujung-ujungnya udah ketauan. kancrut. bahkan belum nyampe pertengahan film, saya tau kalo saya udah dirampok . baik waktu dan duit saya juga.

tentang maskot, ini film yang sebenernya ga jelas tokoh utamanya itu siapa.. hahaha. soalnya, hampir semua orang nyolong perhatian di adegannya masing-masing.

adegan pembukaannya aja yang rada-rada horror, ayam tewas di mana-mana. tapi lima menit setelah itu, saya jamin otot-otot di perut kamu bakal kontraksi. ada adegan ayam yang bisa kungfu.. hahahaha..

bertutur tradisi keluarga yang mempunya perusahaan kecap tjap ayam medja. film ini berputar di dennis, yang bokapnya tiba-tiba kena stroke dan memutuskan untuk akhirnya menyerahkan tampuk pimpinan perusahaan pada dennis. dengan syarat, sesuai tradisi keluarga, dennis harus nyari maskot baru. setelah maskot yang lama sukses terpanggang listrik gara-gara sang bokap mendadak jantungan ngeliat iklan yang ga senonoh…

oh.my.god.

adegan di mana sang bokap mengawasi pembuatan iklan perusahaan, bener-bener bikin saya ketawa mampus. apalagi dengan tambahan subtitle inggris.. bayangin aja kombinasi goyangan ngebor, lagu dangdut berlirik “crot.. dikecrot.. dikecrot…” dan disubtitlekan dengan “squirt.. squirt.. squirt.. ” . kamu bisa mati ketawa sambil orgasme dan ga penting masuk neraka atau surga. adegan ini bener-bener bikin satu gedung ketawa histeris.

agak disayangkan memang ariyo wahab yang keliatan agak keteteran di beberapa adegan, tapi ini bisa dimaafkan. pembagian porsi skripnya emang seperti itu. epy kusnandar (yg kemarin nongol habis pemutaran) dan butet kartaradjasa aktingnya sesuai ekspetasi. btw, siapa yang jadi si sopir itu. dia mainnya juga bagus. (kl ga salah, yg jadi pelayan rumah makan padang di iklan sampoerna hijau) dan juga ga lupa… uhm.. uli auliani. walau akting standar, harusnya bisa lebih bagus kalo ada aksen jawa medok. tapi dimaafkan.. karena.. uhm.. *cakep :”>

all in all.. good movie, good comedy.
cari dvdnya ya teman-teman.. ga rugi deh : )

*aduh, amel, maafkan suamimu ini istriku, tapi beneran kok, my love is only for you lah.. :-*

Review: Denias, Senandung di Atas Awan

*catatan dari acara jiffest yang barusan kelar.

kalo ada film yang bisa ngilangin, atau paling nggak, ngurangin trauma saya nonton film indonesia. denias, senandung di atas awan ini adalah salah satunya.

bercerita tentang denias, anak di sebuah suku di pedalaman papua, yang mempunyai keinginan untuk mendapatkan pendidikan yang layak. dan dari keinginannya ini, denias pergi meninggalkan kampungnya dan mendapati dirinya berada di sebuah petualangan baru.

dengan dialog-dialog polos dari interaksi denias dengan orang-orang sekitarnya, penuh humor sekaligus kontemplatif. akting para karakternya mengalir dengan mulus, well, kecuali di bagiannya mathias muchus ( saya setuju sama sinema indonesia untuk yang ini ). di situ, entah kenapa, saya merasa kok adegannya gak ngalir.

banyak sekali adegan yang mungkin sebenarnya ada di sekitar sehari-hari tapi lewat dari pengamatan kita akan ditampilkan di film ini. oh. btw, disamping panorama papua, nantikan juga di mana karakter enos (minus karoba) akan mengocok perut kalian.

pendeknya, film ini amat sangat layak untuk ditonton. paling tidak, selain menghibur, film ini akan membuka mata kita tentang bagaimana sih pendidikan yang layak itu sebenarnya?
dan kalo emang ga ada yang theater yg muter film ini lagi. ga ada salahnya kalian koleksi dvdnya. moga2 aja akan lebih banyak sineas indonesia yang bikin film bagus macam denias, senandung di atas awan.