Review: Denias, Senandung di Atas Awan

*catatan dari acara jiffest yang barusan kelar.

kalo ada film yang bisa ngilangin, atau paling nggak, ngurangin trauma saya nonton film indonesia. denias, senandung di atas awan ini adalah salah satunya.

bercerita tentang denias, anak di sebuah suku di pedalaman papua, yang mempunyai keinginan untuk mendapatkan pendidikan yang layak. dan dari keinginannya ini, denias pergi meninggalkan kampungnya dan mendapati dirinya berada di sebuah petualangan baru.

dengan dialog-dialog polos dari interaksi denias dengan orang-orang sekitarnya, penuh humor sekaligus kontemplatif. akting para karakternya mengalir dengan mulus, well, kecuali di bagiannya mathias muchus ( saya setuju sama sinema indonesia untuk yang ini ). di situ, entah kenapa, saya merasa kok adegannya gak ngalir.

banyak sekali adegan yang mungkin sebenarnya ada di sekitar sehari-hari tapi lewat dari pengamatan kita akan ditampilkan di film ini. oh. btw, disamping panorama papua, nantikan juga di mana karakter enos (minus karoba) akan mengocok perut kalian.

pendeknya, film ini amat sangat layak untuk ditonton. paling tidak, selain menghibur, film ini akan membuka mata kita tentang bagaimana sih pendidikan yang layak itu sebenarnya?
dan kalo emang ga ada yang theater yg muter film ini lagi. ga ada salahnya kalian koleksi dvdnya. moga2 aja akan lebih banyak sineas indonesia yang bikin film bagus macam denias, senandung di atas awan.

20 thoughts on “Review: Denias, Senandung di Atas Awan”

  1. katumbiri said: denias keren banget..(tapi tetep aja, adegan kaki gerak2 ibunya yang mati kebakar en ga ikutan gosong ganggu gw banget!!)

    hoho.. iya. gw juga notice hal ini. pantesan, rasanya ada yg kelupaan.. :Pthanks buat remarknya ya.. : )

  2. spinkage said: pendeknya, film ini amat sangat layak untuk ditonton. paling tidak, selain menghibur, film ini akan membuka mata kita tentang bagaimana sih pendidikan yang layak itu sebenarnya?

    Filem ini memang keren, terutama visualisasinya. Nggak nyangka Papua bisa terlihat seindah itu. Gagasan ceritanya juga menarik. Inspiring. Albert ‘Denias’ Fakdawer dan orang-orang Papua lainnya bermain apik.Yang memuat dahi berkerenyit justru akting orang-orang non Papua, terutama Marcella Zailanty. Kalo dia dicabut dari filem ini, rasanya malah segala sesuatunya akan lebih baik, karena penampilannya kikuk dengan dialog yang gamang. Terasa betul Marcella dipasang semata untuk pertimbangan komersial.Hal lain yang bikin aku geregetan adalah penonjolan peran TNI yang berlebihan. Terlalu banyak adegan yang berisi tentara. Alasan tidak diketemukannya Maleo juga nggak masuk akal. TNI dikenal sebagai organisasi dengan administrasi rapi. Pasti mereka punya catatan tentang bintara Kopassus yang ditempatkan di kawasan tempat Denias tinggal. Apalagi ada beberapa kali sorti penerbangan helikopter untuk mengirim suplai padanya dan saat selesai tugas, ia dijemput heli dengan pengawalan serdadu bersenjata lengkap.Dugaanku Maleo adalah anggota satuan intelejen tempur Kopassus yang ditempatkan di sana untuk tugas pengintaian Organisasi Papua Merdeka (OPM) di dataran tinggi Papua. Masuk akal kalau identitasnya tak diungkapkan. Intel koq dipamerin?Bagaimanapun juga, angkat jempol untuk Ari Sihasale yang punya gagasan membuat film indah ini. Semoga lebih banyak lagi yang akan bikin.

  3. nitasellya said: huaduh….. *menyesal karena belum nonton*

    itu semacam bloopers kok nit. maunya sih bikin mayat yg kaku & garing ototnya gara2 kebakar.trus waktu dishoot dari agak jauh dikit.. pan keliatan tuh dari ujung kepala sampe kaki.. tau2 tuh kaki gerak aja gitu.. :))

  4. wisat said: Dugaanku Maleo adalah anggota satuan intelejen tempur Kopassus yang ditempatkan di sana untuk tugas pengintaian Organisasi Papua Merdeka (OPM) di dataran tinggi Papua. Masuk akal kalau identitasnya tak diungkapkan. Intel koq dipamerin?

    wah thanks for the remarks mas Tomi : )sekarang baru masuk akal.menilik dari beberapa tulisan di akhir yang menerangkan kondisi anak-anak itu sekarang (ada yg S2 juga kl ga salah) agak aneh juga kalo mereka ga bisa melacak maleo. jadi kemungkinan besar emang maleo sengaja ga diungkap identitasnya : )dan soal porsi kemunculan TNI, saya rasa karena emang mereka jadi sponsor sih😀

  5. gretan said: hix…jadi pengen nonton…:(kmaren yg antri JIFFEST ngalah2in antri sembako githu…bikin ilfil..:(

    kalo begitu, nyari dvdnya aja dian.. kalo elo udah ga sabar loh ya.kalo sabar. nunggu aja musim liburan anak sekolah.. naga2nya sih film ini mungkin bakal diputer di tipi😀

  6. loe nonton kapan? dijiffest?yg ngantrinya ampe kyk ngantri sembako itu???gw gak dpt tiket itu malaham cuma dapetin realita, rock n roll & cinta, tp filmnya itu jg not bad ;)gw lagi cicil review film di jiffest nih ;p

  7. sorayalannazia said: loe nonton kapan? dijiffest?yg ngantrinya ampe kyk ngantri sembako itu???gw gak dpt tiket itu malaham cuma dapetin realita, rock n roll & cinta, tp filmnya itu jg not bad ;)gw lagi cicil review film di jiffest nih ;p

    realita…? wah keren tuh. barry prima emang dahsyat.. hahahagw nonton denias, pas hari sabtu, minggu pertama jiffest aya. waktu itu ketemu elo juga : )

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s