Review: Batman: Gotham Knight

Batman:Gotham Knight, dibuat sebagai sebuah tie in untuk mengisi gap antara Batman Begins dan The Dark Knight. Hal yang sama bisa dilihat di Animatrix (masih pada inget kan?).

Dalam DVD ini, ada 6 cerita yang saling berkaitan, sekaligus mengenalkan beberapa latar belakang tokoh-tokoh yang muncul di The Dark Knight.

Hypenya lumayan besar, karena digarap oleh beberapa studio animasi seperti Studio 4°C, Madhouse, Bee Train & Production IG

Di cerita pertama, “Have I got a Story For You” bertutur tentang sekumpulan anak muda di sebuah wahana skateboard yang masing-masing bercerita tentang pertemuan mereka dengan Batman. Tiga dari empat sekawan ini bertutur dengan sudut pandang dan bumbu yang berbeda. Pada dasarnya, mungkin inilah mitos Batman bagi sebagian besar manusia di Gotham, sebuah urban legend, yang seringkali bombastis. Cerita berakhir ketika tiba-tiba Batman yang mengejar Man in Black, bertempur sampai ke wahana skateboard tersebut. Oh ya, sesi ini dianimasikan dengan tone warna yang lumayan cerah.

“Crossfire”, menyusul di bagian kedua. Di tengah perjalanan untuk mengantar Man in Black yang tertangkap di cerita pertama ke penjara, dua anggota MCU, Allen & Ramirez beradu argumen tentang cara mereka memandang Batman. Sudut pandang mereka sama-sama berubah, ketika mereka terjebak dalam baku tembak antara Sal Maroni dan Mafia Rusia. Animasi actionnya lumayan keren, dan bisa menutupi sedikit kelemahan yang pada dialog. saya suka penggambaran rasa takut Maroni ketika melihat Batman melintasi api, digambarkan dengan baik lewat ekspresi fasial yang sangat baik.

Oh! Ingin lihat Bruce Wayne digambarkan seperti pria flamboyan dalam manga serial cantik? Well, “Field Test” bisa jadi jawabannya. Di cerita ini, diceritakan bagaimana kekuatan moral Bruce/Batman, ketika dia menguji salah satu inovasi Lucius Fox yang paling baru, berupa medan elektromagnetis anti peluru, di tengah konflik Maroni vs Mafia Rusia. Juga penyelidikan Batman pada kasus terbunuhnya seorang aktivis Gotham. Di sini ada satu quote favorite saya, ketika Bruce mengembalikan alat anti peluru itu pada Lucius, “… it works too well; I’m willing to put my life on the line. But it has to be mine, no one else’s.”

Di “In Darkness Dwells” Batman menyelidiki penculikan seorang kardinal. Para saksi mengatakan bahwa sang kardinal diculik oleh monster. Penyelidikannya kali ini menuntunnya sampai ke gorong-gorong bawah tanah Gotham. Diwarnai pertempuran, yang sayangnya singkat sekali, dengan Killer Croc. Batman akhirnya membuktikan teori bahwa Scarecrow berada di balik ini semua.

Ini sesi flashback. Dalam “Working Through Pain” Batman terkena tembakan di perut dari seorang pria yang masih terkena efek gas takut Scarecrow. Sementara Batman berjuang susah payah untuk keluar dari bawah tanah, Bruce teringat pengalamannya saat menjadi sukarelawan dan membantu proses operasi pengangkatan peluru tanpa bius. Tertarik dari pengalaman menjadi sukarelawan tersebut, Bruce ingin belajar untuk mengatasi rasa sakit. Sayangnya, di India, dia ditolak oleh para fakir. Tetapi Bruce akhirnya bisa belajar dari Cassandra, seorang yang berhasil memiliki penguasaan rasa sakit (walaupun Cassandra diusir dan dikucilkan, karena pada waktu belajar pada beberapa fakir, Cassandra menyamarkan identitasnya sebagai seorang gadis).

Bagian terakhir, benar-benar bagian untuk fan boys. “Deadshot”. Di sini dituturkan bahwa Komisaris Gordon menjadi target buruan Deadshot, walaupun yang diincar sebenarnya adalah Batman. Animasi sesi terakhir ini, penuh aksi, cepat dan eksplosif.

Jadi, secara keseluruhan, yaaaa.. susah juga saya buat menentukan berapa bintang mau saya kasih. saya suka banget terobosan seperti ini. Animasi yang kreatif dan gaya gambar yang variatif. Semuanya keren!

Downside, ada yang animasinya saya rasa bagus, tapi nilainya merosot gara-gara ceritanya agak dangkal. Kemudian, saya suka Kevin Conroy kembali buat mengisi suara Batman/Bruce Wayne. Tapi mungkin karena animasi ini dibuat oleh studio Jepang, maka kadang gerakan mulut dan suara Conroy jadi meleset, dan jujur, kadang ini bikin ilfil.

So ya gitu deh. 4 bintang aja kali ya?

Credits:

Directors
Shojiro Nishimi
Futoshi Higashide
Hiroshi Morioka
Yasuhiro Aoki
Toshiyuki Kubooka
Jong-Sik Nam[1]

Producers
Toshi Himura
Emma Thomas
Michael Uslan
Benjamin Melniker
Bruce Timm

Writters
Brian Azzarello
Josh Olson
David S. Goyer
Greg Rucka
Jordan Goldberg
Alan Burnett

ramalan & jidat

mbak peramal: hmm… garis utamanya tegas, tapi banyak guratan di sini. artinya, bakal nemuin banyak masalah, but if you could handle it well, you gain accumulated wisdom. now, have you learn anything from these past troubles? rocky ride ahead buddy.

gue: menyibak rambut dan menariknya ke belakang.
see this mbak? jidat gue tambah lebar tiap tahun. what you called accumulated wisdom took some space you know?

*dari ramalan gratisan pas bubaran festival kemang

Review: Zaman Edan

ketika membaca buku yang direkomendasikan oleh eliza ini, saya seperti menggali lagi ingatan atas kerusuhan etnis di kalimantan. waktu itu,saya masih kuliah, dan di sebuah ruangan yang penuh asap rokok, saya duduk dengan perut yang membuncah. mual, marah sekaligus ngeri dengan apa yang saya lihat dari hasil memutar dua keping vcd tentang pembantaian di sana.

for fuck sake, ini beneran nih kejadian di indonesia?!

and you know what, waktu itu mungkin saya bisa mengerti kenapa banyak orang-orang bersedia gabung dengan laskar jihad dan berangkat “perang” ke sana.

sebenarnya, desember tahun lalu, ketika bertemu dengan richard, saya ingin menanyakan banyak hal tentang kerusuhan etnis di kalimantan. seperti apa rasanya ketika anda berjalan dan melihat langsung potongan kepala yang ditancapkan pada lembing dan ditancapkan di jalan masuk desa. atau seperti apa sih sebenarnya bau sate manusia? seperti apa jakarta waktu kerusuhan itu? anda lihat orang yang mencurigakan? apa anda setuju bahwa someone up there, engineered the riot?

sounds silly stuff really, karena sebenarnya hal-hal yang akan saya tanyakan sudah digambarkan secara jelas di bukunya. but you can’t help it. you’re going to meet the dude, that seen it all, first hand. Pembantaian etnis di kalimantan, kerusuhan jakarta, bumi hangus timor timur and still have the gut to write it all down, articulately.

but no. saya tidak menanyakan itu semua. instead, kita ngobrol aja secara kasual. dan ujung pertemuan kami, saya memperhatikan ketika mata richard menerawang ke bundaran hi di bawah sana. sambil membuat gestur menunjuk satu bangunan besar, dia nyeletuk “that building wasn’t there last time i came here. jakarta’s changed so much”

karena saya termasuk pendatang, tadinya saya ingin bertanya. really? better? or worse? saya urungkan. richard, foke, atau mbok darmi penjual sayur punya jawaban mereka sendiri-sendiri.

so, jika kalian memutuskan untuk membaca buku ini. bear & learn. bahwa memang ada noda kelam di sejarah modern indonesia. bahwa sampai sekarang pun, api huru-hara itu sebenarnya belum sepenuhnya padam. baranya masih siap menyala dengan satu tiupan kencang saja.

Review: Chronicles of Wormwood

Chronicles of Wormwood

Warning: Komik ini memang cenderung kontroversial, karena tidak hanya memparodikan konsep Tuhan, Manusia, Setan, Surga dan Neraka. Tapi juga muatan satir liberal di dalamnya yang menyindir tuntutan agama yang dipahami secara “salah” oleh manusia.

Ditulis oleh Garth Ennis dan illustrasi oleh Jacen Burrows, CoW bercerita tentang seorang antichrist bernama Danny Wormwood. Konsep antichrist juga dipelintir sedemikian rupa oleh Ennis, karena Danny justru bersahabat dengan Jay (Jesus) Sang Juru Selamat.

Walaupun digoda sang ayah (Satan) untuk memulai akhir dunia. Danny terus menerus menolak. Dia merasa tidak perlu untuk memulai kiamat dengan membunuh Jay, karena dia merasa bahwa manusia, berhak untuk menentukan jalan hidup mereka sendiri.

Yang menarik adalah, konsep yang dikemukakan Ennis, bahwa setiap orang bisa masuk Surga. Saat Danny dan Jay memutuskan untuk road trip. Imagine this, road trip dua tokoh utama ini adalah jalan-jalan ke surga dan neraka! Saat road trip, Jimmy, kelinci peliharaan banyak bertanya, bagaimana seseorang bisa dikategorikan sebagai penghuni surga atau neraka. Dan baik Jay atau Danny sepakat bahwa apapun agama yang lo anut, kuncinya cuma satu, DO NO HARM. Jangan pernah nyakitin orang lain.

Humor gelap yang dimuat di sini juga sering banget tepat sasaran. Seperti saat Danny memutuskan untuk memutuskan untuk menukar kodrat hidung dan penis seorang bartender, gara-gara dia menghina Jay. Figure it out, penis dangling in your face? Atau saat mereka mengunjungi seorang pelaku bom bunuh diri di surga. Yes, suicide bomber goes to heaven, dan dapat puluhan perawan sebagai hadiahnya. Hasilnya, sang suicide bomber ada di surga, tapi depresi karena harus ngurusin puluhan bayi sekaligus.

Illustrasi Burrows juga menarik untuk dicermati. Dia berhasil menerjemahkan teks Ennis ke dalam gambar yang benar-benar menghidupkan karakter-karakter dalam komik ini.

All in all, if you decide to read it. Don’t take it too seriously. Nikmatilah sebagaimana adanya buku ini. Komik parodi nan satir.

bubu & kobo

both my late bunnies 🙂

kenapa dinamain bubu? karena bulunya abu-abu.. pemalu, centil dan sering banget bersihin mukanya.

kalau kobo, gue ambil dari sebuah manga. curious dan lincah.