ramalan & jidat

mbak peramal: hmm… garis utamanya tegas, tapi banyak guratan di sini. artinya, bakal nemuin banyak masalah, but if you could handle it well, you gain accumulated wisdom. now, have you learn anything from these past troubles? rocky ride ahead buddy.

gue: menyibak rambut dan menariknya ke belakang.
see this mbak? jidat gue tambah lebar tiap tahun. what you called accumulated wisdom took some space you know?

*dari ramalan gratisan pas bubaran festival kemang

Advertisements

Review: Zaman Edan

ketika membaca buku yang direkomendasikan oleh eliza ini, saya seperti menggali lagi ingatan atas kerusuhan etnis di kalimantan. waktu itu,saya masih kuliah, dan di sebuah ruangan yang penuh asap rokok, saya duduk dengan perut yang membuncah. mual, marah sekaligus ngeri dengan apa yang saya lihat dari hasil memutar dua keping vcd tentang pembantaian di sana.

for fuck sake, ini beneran nih kejadian di indonesia?!

and you know what, waktu itu mungkin saya bisa mengerti kenapa banyak orang-orang bersedia gabung dengan laskar jihad dan berangkat “perang” ke sana.

sebenarnya, desember tahun lalu, ketika bertemu dengan richard, saya ingin menanyakan banyak hal tentang kerusuhan etnis di kalimantan. seperti apa rasanya ketika anda berjalan dan melihat langsung potongan kepala yang ditancapkan pada lembing dan ditancapkan di jalan masuk desa. atau seperti apa sih sebenarnya bau sate manusia? seperti apa jakarta waktu kerusuhan itu? anda lihat orang yang mencurigakan? apa anda setuju bahwa someone up there, engineered the riot?

sounds silly stuff really, karena sebenarnya hal-hal yang akan saya tanyakan sudah digambarkan secara jelas di bukunya. but you can’t help it. you’re going to meet the dude, that seen it all, first hand. Pembantaian etnis di kalimantan, kerusuhan jakarta, bumi hangus timor timur and still have the gut to write it all down, articulately.

but no. saya tidak menanyakan itu semua. instead, kita ngobrol aja secara kasual. dan ujung pertemuan kami, saya memperhatikan ketika mata richard menerawang ke bundaran hi di bawah sana. sambil membuat gestur menunjuk satu bangunan besar, dia nyeletuk “that building wasn’t there last time i came here. jakarta’s changed so much”

karena saya termasuk pendatang, tadinya saya ingin bertanya. really? better? or worse? saya urungkan. richard, foke, atau mbok darmi penjual sayur punya jawaban mereka sendiri-sendiri.

so, jika kalian memutuskan untuk membaca buku ini. bear & learn. bahwa memang ada noda kelam di sejarah modern indonesia. bahwa sampai sekarang pun, api huru-hara itu sebenarnya belum sepenuhnya padam. baranya masih siap menyala dengan satu tiupan kencang saja.