Review: Earth

dalam dokumenter ini. kita akan diajak jalan-jalan keliling dunia. mulai dari liat polar bear di kutub (funny, i can;t recall, which pole was it?). kemudian geser pemandangan aurora australis, lanjut ke hutan yang mengelilingi daerah kutub sampai pindah lagi ke hutan tropis, gurun pasir dan padang rumput afrika.

it’s all there baby. bagian favorit saya adalah burung di daerah papua yang udah berlelah2 joget buat memikat pasangannya, tapi ditinggal gitu aja. lalu juga anak-anak bebek mandarin yang melakukan terbang (terjun) pertama mereka dari pohon yang lumayan tinggi.

it was like some small duck ninja: cowabungaaaa!!!

pada dasarnya, semuanya tentang the circle of life. bagaimana satu kejadian di satu bagian dunia, bisa berpengaruh ke bagian dunia yang lain. ice melting yang terlalu cepat, bisa berpengaruh pada punahnya polar bear (at this rate, diramalkan bahwa polar bear akan punah di tahun 2030). dan tidak hanya polar bear saja yang terancam. plankton yang biasa jadi santapan paus hunchback pun juga bakalan makin tipis stoknya.

one thing leads to another.

dan dongeng bermuatan pesan ini diterjemahkan dalam gambar yang memang luar biasa bagus. gimana nggak? ini proyek dokumenter yang ambisius (paling nggak, secara teknis sih). lima tahun pembuatan, dengan 40 orang kameramen spesialis yang menghabis kan 4500 hari di lapangan, 200 lokasi di 26 negara. termasuk di dalamnya ada 250 hari untuk mengambil foto2 aerial. ajegile.

to name a few or my own reaction when i was watching this documentary was like:

wow..
woohoo!
yeah
aww…
whoa…
hey!

and less: shit!
which, regarding the issues in this movie, is not quite. good.

okelah, seperti yang saya bilang di atas. secara visual, dokumenter ini luar biasa. beneran.

maksud saya adalah, mungkin saya yang salah dalam mengartikan pesan yang saya pikir, hendak disampaikan dalam film dokumenter ini. pesan moral “global warming” yang disampaikan lewat narasi, memang bisa terlihat, terbaca, terdengar dengan halus. tapi rasanya, dalam kondisi “dire” saat ini, pesan halus kok rasanya kurang pas.

all in all, mungkin memang sengaja dibikin halus, karena target audience yang sepertinya pree teen. tapi tetap kok. apa yang kamu lihat di sini, pasti memesona. dijamin!