Review: Chaos Theory

kadang sebuah kejadian acak, bisa membuka pintu-pintu kebenaran. dan mungkin, film ini bisa dengan baik menggambarkan itu semua.

bertutur tentang kehidupan frank allen, seorang ahli dalam manajemen waktu, yang tadinya tertata rapi, sangat terorganisir, tapi tiba-tiba jungkir balik gara-gara rentetan kejadian yang dimulai dari telatnya dia berangkat bekerja.

bayangkan seorang yang harusnya jadi pembicara datang terlambat ke seminar tentang efisiensi & manajemen waktu. kemudian gara-gara digoda seorang peserta, frank akhirnya memutuskan untuk pulang dan perjalanannya berujung pada sebuah kecelakaan yang mengharuskan dia mengantar seorang wanita ke rumah sakit untuk melahirkan.

dan akhirnya ketika sampai di rumah, frank menghadapi susan, istrinya, yang ngamuk gara-gara rumah sakit menelpon dan meminta sang istri untuk tidak meninggalkan bayi yang baru lahir. bayi? bayi siapa?

bear with me. that wasn’t all there is.

kesalahpahaman ini menuntun frank untuk melakukan tes sperma untuk membuktikan bahwa dia bukan ayah bayi tersebut, hanya untuk membuktikan bahwa dia ternyata mandul.

jadi? siapa sebenarnya ayah jesse? putrinya yang berumur 7 tahun itu?

rentetan kejadian ini membuat frank meruntuhkan semua teorinya tentang waktu, rencana dan organisasi. dia melakukan segalanya dengan cara baru. menulis beberapa pilihan acak pada sebuah kertas, dan langsung melakukakannya. hal-hal yang dulu tidak mungkin dia lakukan.

lari telanjang di jeda pertandingan hoki, beli harley dan mengendarainya tanpa helm.. all those random & chaotic things.

menurut gue, reynolds truly delivers. adegan komedi pas tertata rapi, di sela kejadian yang dramatis dan heartbreaking.

but in the end. nilai plus film ini ada di pesan yang coba disampaikan. pesan yang membuat hati terasa hancur berkeping, namun tertata lagi dan menjadi hangat. pesan yang menyiratkan maaf, pengertian, komunikasi dan yang paling penting, kasih.