guidelines for writer wannabe #4

Oke, memang ga ada yang teriak encore! encore! Tapi bagian ini emang lupa gue tulis 😀

Tapi catet yeuh, ini hanya berlaku apabila naskah elo dinyatakan layak terbit.

Nah, setelah jempol kamu berbunga-bunga dapat kabar bahwa penerbit tertarik mencetak naskah kamu. Maka biarin aja jempol itu berbunga-bunga sebentar, but most important thing, is keep your cool and stay down on earth.

Sebelum, kamu lihat buku yang tercetak berdasarkan naskah kamu dan ada nama kamu di tercetak di halaman belakang ada di toko buku (dan kamu udah cubit atau gampar diri kamu sendiri buat meyakinkan diri kamu bahwa kamu ga mimpi), anything is still possible. Termasuk juga kemungkinan bahwa penerbit tiba-tiba menyatakan bahwa mereka menarik minat mereka dari naskah kamu. Sad but it happened.

But let’s get to “reap the benefit” part.

Ada dua sistem yang dipakai untuk menerbitkan naskah.

1. Sistem royalti.

Sistem ini didasarkan pada kontrak perjanjian penerbitan yang dibuat antara kamu dan pihak penerbit.

hal yang tercantum di dalamnya, biasanya adalah:

  • Editing. Penerbit berhak dan bisa melakukan editing seperlunya. Tentunya ini akan didiskusikan lebih lanjut dengan kamu selaku penulis.
  • Durasi kontrak. Ini berarti penerbit memiliki opsi menerbitkan buku kamu dalam jangka waktu yang disepakati. bisa 3 tahun, bisa 5 tahun atau 10 tahun. Kebijakan tiap penerbit berbeda.
  • Jumlah cetakan. 1000, 2000 atau 10000 eksemplar, akan ditentukan di sini. Sama dengan durasi kontrak, angka naik cetak tiap penerbit juga bisa berbeda.
  • Rate royalti. 6% atau 10%, atau berapapun itu, tergantung negosiasi kamu dengan mereka. Jadi misal kamu setuju dengan rate 6%, maka kamu akan mendapatkan 6% dari harga jual. Semisalnya buku dicetak 2000 eksemplar (cetakan pertama), dan dijual dengan harga Rp. 30.000,00 maka kamu akan mendapatkan:

    2000 x 30.000 x 6% = Rp. 3.600.000,00 (dengan asumsi, cetakan pertama sebanyak 2000 eksemplar itu habis di pasaran, syukur kalo bisa cetak ulang berkali-kali).

    Rate royalti juga diterapkan ketika naskah kamu, diterjemahkan ke bahasa asing. Tentunya dengan rate yang berbeda pula.

    Juga ditentukan di sini, tenggang dan tenggat waktu pelaporan hasil penjualan dan pembayaran royalti.

  • Harga diskon penulis. Semisalnya kamu punya duit berlebih, dan ngebet pamer buku ke temen-temen kamu. Maka kamu bisa beli sendiri buku kamu dengan diskon. Besar diskonnya juga berbeda tiap penerbit.
  • Harga obral. Worst case scenario. Dua tahun berlalu dan bahkan cetakan pertama buku kamu nggak habis di gudang, maka penerbit bisa melakukan obral untuk menutup biaya produksi. Dan sayangnya, kamu ga dapat royalti dari obral ini.
  • Sengketa. Pasal ini memuat pengadilan mana yang akan ditunjuk jika terjadi penyalah gunaan kontrak baik oleh penulis atau penerbit.
  • Ahli waris. Ini juga dicantumkan, apabila kamu tiba-tiba almarhum. Maka jatah royalti akan dibayarkan pada ahli waris kamu.
  • Scaling royalty. Hal ini hanya ditetapkan berdasarkan persetujuan antara kamu dan penerbit. Scaling, berarti nilai royalti yang meningkat berdasarkan termin tertentu. Misal, 6% pada cetakan pertama, 7% cetakan kedua, 8% cetakan ketiga dan seterusnya.
  • Pajak. Oke sebelum membayangkan duit yang gue gambarkan di atas. Tunaikan kewajibanmu sebagai warga negara yang baik. Bayar Pajak.
    Menurut UU No. 17 Tahun 2000 Pasal 26, maka royalti yang harus dibayarkan Penerbit dihitung dari jumlah buku yang terjual setelah dikurangi PPh sebesar 10 %.

2. Jual Putus.

Ini berarti penerbit membayarkan sejumlah uang untuk “membeli” naskah kamu. Penerbit bebas menerbitkan berapapun eksemplar yang mereka mau, dan kamu tidak akan mendapatkan royalti.

Jika buku tersebut laku di pasaran. Maka kamu mungkin akan gigit jari, karena seharusnya kamu bisa dapat lebih dari yang mereka bayarkan. Demikian juga sebaliknya, jika buku itu ga laku. Maka mereka yang rugi, sementara kamu sudah dapat jumlah uang yang lumayan.

_______________________________________________________________________________

Sip dah. Gue rasa ini sudah cukup untuk jadi amunisi temen-temen yang niat jadi penulis profesional 🙂

Good luck!

guidelines for writer wannabe #3

Baiklah teman-temanku sayang.

Ini bagian terakhir dari writer wannabe guideline. Gue edit di beberapa bagian, walau belum semuanya sih, termasuk juga tulisan-tulisan sebelumnya, biar ga terlalu resmi. Toh, ini juga blog personal gue gitu loh. . hahahahaha

Gue bener-bener berharap, ini bisa bantu temen-temen yang berniat jadi penulis profesional.

Cheers!

———————

APA YANG SEHARUSNYA KAMU LAKUKAN:

Sebelum naskah kamu kirimkan. Sisihkan waktu yang cukup untuk menyiapkan semua persyaratan dengan sebaik mungkin dan secara seksama.

Perhatikan kualitas cetakan, kerapian dan urutan naskah. Carilah informasi dimana alamat, kepada siapa kamu harus mengirimkan naskah kamu tersebut. Penerbit yang baik, biasanya menampilkan informasi ini di website atau di buku terbitan mereka.

Juga bandingkanlah pengalaman calon penulis lain yang pernah mengirimkan naskah ke penerbit yang kamu tuju. Cari saran, pendapat kritis dari mereka. Ada kemungkinan bahwa calon penulis lain yang kamu mintai saran menjadi penulis profesional di kemudian hari, rekan kolaborasi kamu di proyek naskah kamu di masa depan, atau bisa jadi salah satu kontak kamu di dunia penerbitan yang akan banyak membantu kamu di masa depan.

Jika kamu diundang untuk mendiskusikan naskah kamu, perlakukan kesempatan ini, sekali lagi, selayaknya wawancara pekerjaan.

Penampilan kamu harus rapi dan bersih. Dalam diskusi, bicaralah dengan jelas. Buatlah kontak mata. Yakinkanlah para penimbang naskah bahwa kamu benar-benar terlibat dalam diskusi naskah kamu. Jangan tegang. Jika penimbang naskah menilai naskah kamu tidak layak terbit, maka dia tidak akan duduk di sana bersama kamu, mendiskusikan naskah kamu..

Dengarkan dengan baik apa yang mereka katakan.

Itu adalah alasan kenapa kamu duduk di sana. Buatlah catatan bila perlu. Jangan takut untuk bertanya jika ada tidak mengerti apa yang mereka coba sampaikan berkaitan dengan naskah kamu, atau ketika mereka menggunakan istilah penerbitan yang tidak kamu mengerti.

Biarkan diskusi selesai, ketika diskusi benar-benar selesai.

Ya, inilah kesempatan besar kamu sebenarnya. Tapi tetap ingat bahwa jangan pernah berharap terlalu banyak. Jika diskusi telah selesai, tetapi mereka belum menawarkan untuk menerbitkan naskah kamu. Kamu diijinkan untuk bertanya apakah mereka berminat membaca naskah kamu yang lain. (Tentunya jika kamu membawanya). Atau apakah kamu boleh mengirimkan naskah lagi di masa depan.

Perlu kamu ingat, dalam akhir diskusi ini, jangan memanfaatkan asas “aji mumpung”. Jika kamu rasa tidak ada lagi yang perlu didiskusikan, berterima kasih atas kesempatan diskusi ini dan pamit untuk pulang. Sang penimbang naskah mungkin sedang menunggu calon penulis lain, atau mempunyai pekerjaan yang harus dia selesaikan.

YANG SEHARUSNYA TIDAK KAMU LAKUKAN:

Jangan meminta maaf atas naskah kamu.

Kecuali jika naskah kamu tidak terorganisir, atau ada beberapa halaman yang hilang, maka mintalah maaf karena kamu membuang waktu mereka. Tetapi jika kamu benar-benar menyiapkan semuanya dengan baik, dan mengirimkannya sesuai dengan persyaratan dan prosedur yang ditetapkan. Biarkan naskah kamu bicara untuk kamu dan biarkan penimbang naskah melakukan pekerjaannya.

Jangan mempertahankan naskah kamu.

Komentar apapun yang dibuat oleh penimbang naskah, ditujukan langsung pada naskah kamu, bukan kamu secara personal. Dengarkan apa komentar mereka dan ambil pelajaran dari sana. Jika sang penimbang naskah membuat komentar yang kritis tentang sebuah bagian dari naskah kamu, tidak usah berusaha menjelaskan bagian tersebut. Reaksi awal ini sangat berharga, karena inilah reaksi paling jujur dari penimbang naskah ketika melakukan pekerjaan mereka dalam menilai naskah kamu, terlepas dari apapun yang kamu maksudkan dalam naskah kamu.

Jika kamu tidak setuju dengan pendapat mereka, biarkan saja. Cari penimbang naskah lain di mana kamu bisa menunjukkan lagi naskah kamu. Beradu argumen dengan penimbang naskah, tidak akan mengubah pendapat mereka tentang kemampuan kamu, kualitas naskah kamu, dan tentu saja tidak akan membuat kamu lebih dekat dengan kemungkinan diterbitkannya naskah kamu. (Oke, beberapa penimbang naskah memang “sok tahu”, tapi kemungkinan mereka juga benar-benar mengerti apa yang mereka kemukakan pada kamu)

Jika lewat dari satu atau dua bulan kamu belum mendapat jawaban. Sebenarnya kamu sudah. Mereka tidak tertarik.

Jangan menghubungi penimbang naskah.

Baik lewat telepon, email atau meminta mereka untuk bertemu langsung. They freakin’ hate it.

Jika kamu sudah mendapat pemberitahuan bahwa naskah kamu sudah mereka terima. Yang kamu harus lakukan adalah menunggu. Saat yang tepat untuk menghubungi mereka adalah ketika mereka menghubungi kamu terlebih dahulu untuk melakukan diskusi, berkaitan dengan naskah kamu, yang ingin mereka lakukan dengan kamu.

Ketika kamu benar-benar diundang untuk berdiskusi, hal yang paling penting yang kamu perlu ingat adalah ini kesempatan kamu untuk benar-benar mengerti bagaimana cara kerja dunia penerbitan. Pun ketika pertemuan tersebut berakhir singkat, ambilah sebanyak mungkin pengalaman dari situ.

—————————————————————————————————————-

That’s it folks 🙂 Good luck!