Review: Kearifan Pelacur: Kisah Gelap di Balik Bisnis Sex dan Narkoba

sama seperti review buku gue yang terakhir.
salah satu privilege yang gue dapatkan sebagai pekerja buku, adalah bertemu langsung dengan para penulis.

gue berkenalan dengan eli, panggilan akrab elizabeth pisani, lewat email. ya, klasik memang, di situ dia sempat keliru meng-address gue sebagai mbak yani yang manis… heheh.

dan akhirnya gue bertemu langsung pada kunjungan terakhir dia ke indonesia dan akhirnya diberi kehormatan (well, lebih tepatnya dibajak sih) untuk mengawal press conference pas peluncuran bukunya.

anyway. cukup narsisnya.

do kindly notice, jujur, gue belum habis baca buku ini. tapi yang gue suka adalah, gaya tuturnya yang lancar dan enak dibaca. jadi data statistik yang dikemukakan ga bikin mata pedih atau puyeng. muatan referensinya pun bisa sangat reliable.

dari beberapa bab yang gue baca, dan dari apa yang gue tangkap dari press conference. pesan yang ingin disampaikan eli, bahwa dibalik penyebaran aids yang makin luas dan cepat. ada bisnis dibalik itu semua.

coba bayangkan, jumlah dana yang digelontorkan untuk menanggulangi dan mencari obat hiv/aids adalah sebesar 15 milyar USD! (itu baru dari amerika saja). seperti eli bilang, ada gula ada semut. ada duit sebesar itu, tentu saja jadi rebutan. siapa yang ngrebutin? ya kalo ga pemerintah, ya lsm.

tapi gue ga akan mengesampingkan niat mulia para manusia yang memang bekerja secara tulus untuk membantu sesama manusia yang terkena hiv/aids.

salah satu paradigma yang masih terlalu kental di masyarakat kita adalah, kena aids itu azab. kesimpulan didasarkan pada asumsi, bahwa sang penderita pasti suka jajan, sex bebas, pake narkoba dsbnya. paradigma yang kadaluarsa.
ada banyak orang yang nggak berdosa kena hiv/aids gara-gara pasangan mereka, teman atau bahkan anggota keluarga mereka punya pola hidup yang ngga bener dan menyimpang, lalu menularkannya pada mereka.

kalo ada yang nonton acara kick andy yang menampilkan eli, pasti melihat bahwa ada seorang ibu muda yang terkena virus ini dari suaminya. dia ga salah apa-apa, tapi menanggung konsekuensi kejam yang dilakukan sang suami. that’s just sick and unfair.

demikian juga di penjara. para napi narkoba bisa dapet barang haram itu tapi begitu make, jarumnya dipake gantian. satu ketularan, yang lainnya jadi ikut-ikutan ketularan. lepas dari penjara, mereka bisa aja menularkan virus tsb pada orang dekat atau keluarga mereka sendiri.

btw, ada satu wacana yang menarik tentang prostitusi di sebuah negara di asia tenggara. memang prostitusi di sana ilegal. tapi pemerintah negara ini punya kebijakan sendiri tentang hal ini. prinsip “tau sama tau” dilaksanakan.

prostitusi boleh tetap jalan, tapi pemerintah sebenarnya juga ga tutup mata begitu saja. kontrol mereka lakukan secara berkala. metodenya, mereka mendata nama dan jumlah psk yang bekerja di bordil tersebut. lalu tiap bulan dilakukan pengecekan hiv/aids. jika ada yang tertular, maka bordil dipaksa untuk tutup.

satu fakta buat pertimbangan kalian. beberapa tahun yang lalu, perbandingan jumlah penderita/pengidap hiv/aids di kalangan psk di jakarta adalah 1:100

sekarang? 1:10

virus ini sudah jadi musuh bersama kita. ga peduli kamu orang yang lurus atau menyimpang. dan eli juga berkeras pada gue, bahwa nggak mungkin kita menggantungkan penanggulangan virus ini pada pemerintah atau regulasi yang mengaturnya. satu hal kecil yang bisa kita mulai adalah dari diri kita sendiri.

lo pasti udah tau lah caranya 🙂

salah satunya. ya beli buku ini, biar makin banyak tau.. heheh