Review: King

king nyaris memenuhi semua ekspetasi saya.

dari sinematografi, plot yang mengalir lancar, akting pemain pas dan natural. oh ya, juga gambaran pemandangan alam yang memesona.

cerita bergulir di sebuah desa di banyuwangi. sang ayah bernama tedjo (mamiek! sampeyan emang ciamik!) seorang pengepul bulu unggas, komentator kampung yang ngefans berat sama liem swie king, sampai sang anak diberi nama guntur (sesuai julukan king)

obsesi tedjo agar sang anak bisa jadi juara, adalah jalinan konflik utama dalam film ini. jurang komunikasi terbentuk antara ayah yang terlihat keras, tapi sebenarnya rela mati untuk anaknya, dengan sang anak yang berusaha memenuhi keinginan sang ayah, walau sering dia sendiri merasa gagal memenuhinya.

lalu juga masih ditingkahi oleh raden, sahabat kental guntur. yang niatnya selalu baik, tapi jatohnya malah sering nyusahin. mulai dari provokasi bahwa piala itu pasti isinya duit, sampe sabotase senar balon buat gantiin senar raket.

jalan cerita nyaris sebangun dengan garuda di dadaku. tapi olahannya terasa kental bedanya. well, kecuali di bagian “rival”, di mana sang rival sama aja konsepnya dengan garuda di dadaku, orang tajir yg punya duit lebih & merendahkan si kurang mampu.

poin plus king, selain lansekap indah yang ditawarkan, tokoh-tokoh lainnya pun ngga cuma jadi sekedar tempelan ngga penting. salut juga buat mamiek, yang ngga terperangkap dalam persona srimulatnya.

jika perjalanan guntur dari kampungnya menuju ke kudus adalah jalan polos, maka tokoh-tokoh yang muncul bisa diibaratkan jadi tapak diletakkan di atasnya, yang jadi pijakan untuk membantu guntur ke sana.

humornya juga segar (ada satu adegan yang mengingatkan saya sama film aryo wahab, maskot!), porsinya dan momennya pas. saya bener-bener tertawa tanpa pretensi apa-apa. soundtrack sama illustrasi suara, juga saya acungi jempol.

dan ketika sang legenda hidup, liem swie king muncul, diikuti dengan lagu indonesia raya yang didengungkan di akhir film.

getarnya, bikin saya bangga jadi orang indonesia.

Review: Garuda Di Dadaku

garuda di dadaku

sebenernya, saya lumayan ngarep sama film ini. di tengah gempuran film-film horor generik (not mention those with dewi perssik in it.. btw, inget sekarang pake 2 s)

di 30 menit pertama, saya bingung. selain pesan sponsor yang, well, sama sekali nggak sublime. arus dialognya berasa sinetron sekali. nyaris hiperbola di sana sini. untung masih ketutupan sama celetukan bang dullah (ramzi)

ceritanya sendiri dimulai dari bayu (emir mahira) bocah gila bola yang niat banget pingin jadi pemain timnas. “pake garuda di dada!” celotehnya pada sang ibu (maudy koesnady). sementara usman, sang kakek melarang keras si cucu buat maen bola. karena trauma pada sang anak yang punya bakat bola, tapi gara-gara cedera, harus banting tulang jadi supir taksi (oh, and he’s dead in an accident)

plot pun “harusnya” berkembang dari sini. si bayu yang harus bohong sampai sembunyi-sembunyi buat bisa latihan bola di antara padatnya jejalan les yang dijadwalkan sang kakek. sampe dilema sang ibu yang harus kerja keras demi sang anak.

sayangnya, kok saya nilai gagal. potensi konflik yang harusnya bisa dikembangkan lebih jauh, tersendat selama perjalan film. karakter yang di tengah jalan dikenalin, cuma jadi sekedar tempelan tanpa sumbangan apapun ke jalan cerita atau pengembangan karakter utama. atau kenapa sih? harus ambil konsep fierce rivalry bukannya friendly rivalry?

saya ga punya hati kalau mau bilang kecewa. toh emang ada beberapa satir yang diungkapkan berasa kena sekali di kondisi masyarakat sekarang ini. seperti ketika pak usman nyeletuk masa depan pemain bola sekaligus mocking jagad sepakbola indonesia, “orang nonton bola aja bisa mati!”

all in all, 2 stars should suffice.