Review: Garuda Di Dadaku

garuda di dadaku

sebenernya, saya lumayan ngarep sama film ini. di tengah gempuran film-film horor generik (not mention those with dewi perssik in it.. btw, inget sekarang pake 2 s)

di 30 menit pertama, saya bingung. selain pesan sponsor yang, well, sama sekali nggak sublime. arus dialognya berasa sinetron sekali. nyaris hiperbola di sana sini. untung masih ketutupan sama celetukan bang dullah (ramzi)

ceritanya sendiri dimulai dari bayu (emir mahira) bocah gila bola yang niat banget pingin jadi pemain timnas. “pake garuda di dada!” celotehnya pada sang ibu (maudy koesnady). sementara usman, sang kakek melarang keras si cucu buat maen bola. karena trauma pada sang anak yang punya bakat bola, tapi gara-gara cedera, harus banting tulang jadi supir taksi (oh, and he’s dead in an accident)

plot pun “harusnya” berkembang dari sini. si bayu yang harus bohong sampai sembunyi-sembunyi buat bisa latihan bola di antara padatnya jejalan les yang dijadwalkan sang kakek. sampe dilema sang ibu yang harus kerja keras demi sang anak.

sayangnya, kok saya nilai gagal. potensi konflik yang harusnya bisa dikembangkan lebih jauh, tersendat selama perjalan film. karakter yang di tengah jalan dikenalin, cuma jadi sekedar tempelan tanpa sumbangan apapun ke jalan cerita atau pengembangan karakter utama. atau kenapa sih? harus ambil konsep fierce rivalry bukannya friendly rivalry?

saya ga punya hati kalau mau bilang kecewa. toh emang ada beberapa satir yang diungkapkan berasa kena sekali di kondisi masyarakat sekarang ini. seperti ketika pak usman nyeletuk masa depan pemain bola sekaligus mocking jagad sepakbola indonesia, “orang nonton bola aja bisa mati!”

all in all, 2 stars should suffice.

7 thoughts on “Review: Garuda Di Dadaku”

  1. aww… what a shame. tp film2 indonesia cenderung begitu kok, idenya oke, banyak potensi untuk alur cerita menarik, tp eksekusinya gagal… dan terakhir kali gw nyeletuk begini ke film Cin(t)a, they became defensive, katanya karena keterbasan dana… so semua yg jelek jawabannya karena keterbasan dana, please stop saying that!!! yah klo mentalnya masih gini, gimana mau tambah bagus, karena mereka sudah cepat puas dengan hasil yg cuman gitu-gitu aja dan ga punya keinginan untuk menghasilkan yg terbaik (walau dengan dana terbatas).

  2. nggak setuju, empat bintang! bagus kok… ini film keluarga dan tepat sasaran, menurut saya. terlepas dari kekurangan mengeksekusi ide yang bagus, ini oase yang sangat menyegarkan untuk industri perfilman indonesia. apalagi, dibandingkan sinetron anak-anak (atau dewasa yang di’anak-anak’kan?). jauh lebih bagus.

  3. I can see why you gave two stars :DI haven’t seen it, but my two years old nephew and his older cousin like it. We might have to face that we’re not the market. Your point of view might beyond this flick. But kids like it. They don’t need real conflicts. Make believe is enough for them, help them build their imagination, and someday.. they will be like.. hey! you!😉

  4. very true. at first, i was going to give at least three stars. but then, i feel like i betray my own view and what i wanted to see in this particular flick. but above all, the point is, i was glad this movie has been made, i too have several good moment watching it🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s