quitters journal – entry #001

entry #001
berangkat ke lokasi briefing pertama bareng galih. setelah sebelumnya harus membangunkan sang sohib yang tengah molor lewat telepon (padahal gue udah ada di ruangan sebelahnya. how silly was that?)
sampai di sana, kita menemukan fakta satu umum, seperti orang indonesia pada umumnya, banyak yang ngaret. alias masih sepi. setelah isi daftar ulang di depan kita dikasih sepasang polo shirt. warna ijo buat quitter, dan warna item buat sponsor (tadinya mau gue tuker aja gitu, soalnya yang item lebih keren)
untungnya ga nunggu sampai peserta datang semua, acara segera dimulai. narasumber dari rs. persahabatan menjabarkan materi dengan cukup jelas. dan setitik unek2 gue tentang efek samping champix yang gue baca di wikipedia (tentang suicidal ideation) terjawab ketika seorang peserta lain menanyakan hal yang sama.
penjelasannya lumayan panjang, dan rada ribet gue jabarin di sini. (unless kalian bener2 pingin tau ya?) intinya, side effect di mana-mana udah jadi satu paket. that’s why kandidat yang lolos juga sudah melalui proses di mana pertimbangan psikologis jadi salah satu faktor yang lumayan besar porsinya (well, interesting to see how far i go without feeling suicidal… lol)
galih pamit duluan buat acara wwf, sementara gue lanjut ke sesi terakhir. di sana gue diberi pilihan tanggal quit, dan cara penggunaan obat. sementara quitter lain yang masuk bareng gue, memilih untuk mencoba tanpa obat dalam bulan pertama.
gue milih tanggal 1 september. dan i’ll be taking my meds that day.
so. we’ll see how it goes, while i still got a couple day to “enjoy” those, probably & hopefully, last packs of cigs.

Review: Merantau

merantau

belasan tahun lebih kali ya? sejak ada film laga di layar perak indonesia?
dan rada malu gue baru nonton film ini kemarin, sementara gue sudah penasaran ketika film ini ada di firstshowing.net dengan label “must watch!”

digelindingkan dengan narasi sang ibu yang diperankan christine hakim, pacu dramatis berjalan agak lambat di awal film. christine hakim sudah tidak perlu diragukan lagi kualitas aktingnya. lalu ketika penonton mulai gelisah, langsung dihajar dengan rentetan aksi pukulan, bantingan dan tendangan yang koreografinya patut gue acungi jempol. bisa lah, menutupi plot yang menurut gue rada standar.

ini film aksi yang mumpuni. filosofi penting berhasil diselipkan di ending yang non-hollywood. gerakan silat yang realistis, kombinasi jurus yang lembut namun akhirnya tak ragu untuk jadi keras dan tajam ketika diperlukan.

intinya, gue rasa merantau bisa bikin om barry prima & willy dozan jadi bangga 😀

Review: District 9

dari liat film ini, neill blonkamp ga sia-sia jadi muridnya peter jackson. lewat arahannya, kata pengasingan (alienation) dibawa ke level yang baru.

bercerita tentang sebuah kapal induk alien yang mengambang di johannesburg, selama lebih dari 20 tahun. sementara para alien yang dijuluki prawn, direlokasi di sebuah daerah yang diberin nama district 9. wikus van der merwe, adalah seorang pegawai MNU yang bertugas mendata dan membujuk para prawn ini ke lokasi yang baru. menurut gue, film ini jadi semacam sebuah satir pada politik apartheid.

alur mulai berbelok ketika pada suatu pemberangusan, wikus tidak sengaja menyemprot dirinya sendiri dengan suatu cairan aneh, dan secara bertahap, badan wikus berubah menjadi prawn. mulai dari kuku & gigi yang lepas, sampai pada tangan yang berubah persis seperti tangan prawn.

kerumitan mulai terjadi ketika kondisi tangan wikus dicoba untuk menggunakan senjata-senjata dari para prawn. dan ketika tangan wikus ternyata mampu, maka dia jadi buronan para birokrat mnu, termasuk mertuanya sendiri.

bekerja sama dengan prawn yang bernama christopher dan anaknya. wikus berusaha untuk kembali ke raga manusiawinya. drama di jelang akhir film juga menjanjikan. fisik wkikus memang berubah, tapi apakah nuraninya juga demikian?

dengan visual semi dokumenter & interview, awal film memang cenderung berjalan lambat, dan agak membosankan. tapi aksi di pertengahan hingga ujung film, amat sangat layak disaksikan. action packed with awesome gunnery, wicked robot battle (transformers, eat your heart out), blood & body exploding everywhere.. it was totally awesome.

in a nutshell, worth watching.

Review: Up

agak susah ketika menulis review ini. terus terang, ini adalah film pixar pertama yang gue kesulitan nulis sinopsisnya.

intinya sih, up adalah juara. seperti film-film produksi pixar sebelumnya.

the thing is, yang membedakan up dengan film pixar yang lain, up punya muatan yang lebih dewasa dibandingkan dengan pendahulunya. tuturan tentang hidup carl fredricksen dari kecil lalu tumbuh, menjadi tua dan merasakan kehilangan satu demi satu bagian penting dari hidup (i dare you, siapa sih yang ga tersentuh liat 15 menit pertama yang menceritakan hidup carl & ellie?)

dari awal yang lucu, dan manis, dibuka satu pintu ke rasa risau carl karena kepergian ellie.

bersama seorang wilderness scout (pramuka?) bernama russel yang nongkrong di teras rumahnya dan secara tidak sengaja ikut terbawa, carl berangkat menepati sebuah janji, pergi ke paradise falls. dan ketika mereka bertemu seekor burung langka dan anjing yang bisa ngomong disusul dengan pertemuan tak terduga dengan idola masa kecil carl, maka petualangan besar bergulir dengan cepat.

sudah pasti dimanja dengan visual dari pixar yang aje gileee..
pixar masih kasih treat lebih jauh dengan chemistry antara carl & russel. friksi yang muncul antara carl yang uzur dan suka ngomel, dengan russel yang naif tapi tetap kompleks. pindahnya mood melankolis dan gloomy ga dibiarin berlama-lama langsung pindah ke alur petualangan yang cepat. yahud sekali yang bikin script. oh, music score-nya juga mantap.

all in all. it’s a huge movie with heartfelt, touching experience and really, relatable characters. and i’m planning to get the 3D experience.

anyone fancy joining? 😛