Few things for POSTKARTraveler 2012

POSTKARTRAVELER, a traveling exhibition project.

Jadi sesuai judul di atas, temen gue – Novi Kresna (yang sering jadi korban kecemburuan gue atas kerjaannya yang travelling melulu – dan selalu lupa bawain gue oleh-oleh!), bikin art exhibition.

Nah, entah anak ini disamber apa, tau-tau aja gue ditodong buat bikin tulisan. Gue bilang iya, tapi ya karena gue mentok – kombinasi antara lama ga berpuisi dan gue yang udah tobat dari kecanduan galau akut. Ya akhirnya gue ambil aja tulisan jadul gue. Diedit seperlunya – Masih belum kadaluarsa Nov!, tulisan gue timeless! Mwahahaha!

Anyway folks, if you can spare your time, please visit Korean Culture Center at Equity Tower 17th Floor, JL. Jenderal Sudirman Kav. 52-53 (SCBD), Jakarta, 12190, Indonesia. From 23th July – 4th August 2012.

It should be awesome! And below, uhm.. my entries for her project. And of course, all the images are belong to her.
Continue reading “Few things for POSTKARTraveler 2012”

lukisan.di.tubuhmu

dengan kumuran tujuh warna
tercampur sempurna menjelma saliva
lidahku jadi kuasnya
tubuh telanjangmu kanvasnya

dan di atasnya.
aku.lukis.dosa

hipotesa.untuk.bahagia

selaras dengan derak roda kereta
senandungkan rayuanmu wahai pemuja
tentang ayunya gadis gadis desa
bermata binar temaram senja

mari pulang
kan kupeluk kau untuk berdansa
di atas sebuah bujur rahasia
di mana rintik hujan tak terabaikan
basuh hati hati yang gersang

ini cerita tentang kita
dongeng mengalir fasih tanpa mengeja
dan waktu mengalir tanpa terasa
lalu lepas juga beban muram durja

ayo, tak usah sungkan ikut serta
bersenandung kidung rindu padanya
peluruh lara yang berkarat di dada
ini, hipotesa untuk bahagia

*n, thanks for everything back then.
hipotesis. not hipotesa. heheh..

hempas.tanpa.nama

mungkin.
malam ini cerita puluhan malam itu akan berakhir
seperti biasa, dia akan bertutur dengan serak tentang satu nama
yang menghiasi gelap gemilang mimpi-mimpinya
atau mungkin sebuah entitas? entah.
seringkali, menerjemahkan kalimat seraknya saja sudah sulit
atau mungkin sabarku nyaris tamat

jadi apa yang sebenarnya kau mau ceritakan pak tua?

termangu
aku duduk si sampingnya
menunggu

lalu dia terjaga
terbatuk

huerghh…
hergkkhh…
herkghhhh……
hokhhh….

otomatis
sambil sedikit berpaling,
kusodorkan padanya baskom isi pasir

hergkkhh…
hokhhh….
cuih.
cuih.
cuih.

riak hijau kental

dia jilat bibirnya
lalu melirik, meneliti wajahku.
seperti menguji sabarku
dia bertutur lambat…

aku mencarinya
tanpa lelah
tiap bulir keringatku jadi rindu yang terkumpul,
angan jadi lingkaran obsesi
dan nadiku penuh dengan detak namanya.

aku terdiam sejenak
seorang wanita kah pak tua?
sejenak.
hanya gelengan susah payah yang ku dapat

lagi larik ceracau, meluncur terbata dari bibirnya

ku cari dia di semua tempat

di kilap cemerlang emas
di tajamnya ujung pena
di lipatan vagina
di hitam puting wanita

di kibar angkuh bendera

di angka rupiah
di ketukan keyboard
di cetakan tebal judul-judul headline
di racun tujuh detik nikotin
di lorong antara deretan kursi gereja
di lubang simetris candi-candi
di kilap licin tasbih
di hamparan peta

di refraksi cahaya pelangi

di setiap inci petak bumi

bahkan
di umpatan sopir metromini

dia terkekeh
tapi seperti kalah
sementara aku termangu

tuhan kah yang kau cari pak tua?

dia terisak
nyalang di matanya meredup
dan tak lama kemudian tarikan nafasnya mengerat

kemudian
denyutnya nihil

aku bangkit

selimut kumal pesing itu kuhamparkan menutup jasadnya
tidur nyenyak pak tua
apa yang kau cari
mungkin hanya nada dentum keras saat jiwamu. terhempas. di dasar sana

pic

risau.lamat.runtuh

ruang itu nyaris senyap
aku tempelkan telingaku ke pintu
mencerap, selarik monolog dari isak lirihmu

tentang risau yang samar tergurat di atas tekuk alis
juga paparan lara yang terakumulasi
tentang janji yang terabaikan
tentang waktu dan garis usia dan duka yang diguratkan
lalu rasa perih di dada kiri
dan helaan nafas panjang yang repetitif
keteguhan yang kini penuh karat dan mengeropos

samar aku lihat dari lubang kunci
air mata yang luruh hangat mengalir
menggerus usapan bedak di pipimu
dan jalur lengkung yang terjejak di atasnya

masih kah kau setia menunggu
gamang di antara ombak yang menderu?

buatmu, duka adalah tsunami
dan lamat kudengar

dinding hatimu. runtuh.

pic

galau.deras.tumpah.

mimpi yang tak tuntas katamu
ucap tercekat di kerongkongan,
tentang dongeng yang patah

 

sementara
aku berusaha tuli

enggan dengar derak remuk hatimu

petuah lampau itu seperti tikungan lain saja
seandainya kau langkahkan kakimu ke sana

dan sekarang,
masih saja substansi cair dan bening itu mengalir dari matamu

galau, deras, tumpah

 


pic